Selasa, 14 Oktober 2008

Zilot

WOLE Soyinka tahu apa artinya diinjak dan bagaimana rasanya ditindas. Pemenang Hadiah Nobel untuk Sastra tahun 1986 ini sekarang berusia 74. Ketika ia 31 tahun, orang Nigeria ini ditahan pemerintah selama tiga bulan, dan dua tahun kemudian, ia—waktu itu direktur Sekolah Drama di Universitas Ibadan—dipenjarakan karena tulisan-tulisannya dianggap mendukung gerakan separatis Biafra. Selama setahun ia disekap, antara lain di sebuah sel yang sesempit liang lahat. Karena protes internasional, ia dibebaskan. Tapi ketika Jenderal Sani Abacha berkuasa di Nigeria (1993-1998), Soyinka dihukum mati in absentia. Kesalahannya: ia membela seorang pengarang dan aktivis terkenal yang dihukum gantung.

Dari riwayat itu kita tahu, Soyinka tak akan berhenti menentang ”sepatu lars yang menindas”. Tapi kemudian sesuatu yang lebih opresif datang: fundamentalisme agama, terutama di tanah airnya. Bagi Soyinka, kini jadi tugasnya untuk ”melawan mereka yang memilih bergabung dengan pihak kematian”. Artinya ”mereka yang mengatakan telah menerima titah Tuhan entah di mana dan berkata bahwa mereka wajib membakar dunia agar mereka mencapai keselamatan”. ”Pihak kematian” ini tak hanya di satu sisi. Soyinka melihat musuh itu ”di lorong-lorong sempit Irak ataupun di Gedung Putih.”

Karenanya, tugas itu tak mudah. Bagi Soyinka, Nigeria yang didera pembunuhan antarkelompok agama karena fundamentalisme iman, ”lebih berbahaya” ketimbang Nigeria di bawah kediktatoran militer ketika ia sendiri dipenjarakan.

”Fundamentalisme agama lebih berbahaya… sebab ia tak berbentuk, dan bergerak ke banyak arah,” katanya dalam satu wawancara bertanggal Januari 2003. ”Melawan kediktatoran militer, kita bisa memfokuskan sasaran. Kita dapat melawannya langsung. Kediktatoran itu segerombolan orang yang didera hasrat kekuasaan. [Tapi] fundamentalisme memperoleh pengikut di tempat yang paling tak terduga. Ia menyatakan diri dalam bentuk yang acak dan sangat berbahaya.”

Tanah airnya mungkin salah satu saksi yang boncel-boncel dan berdarah. Sejak 1999, di dua belas negara bagian Nigeria Utara, penduduk yang muslim memilih untuk menerapkan syariah Islam. Tapi kian lama kian tampak, ada yang tak beres dengan ketetapan itu, terutama di republik yang berpenduduk 147 juta dan hanya 50 persennya muslim, sementara 40 persennya Kristen. Sementara korupsi meluas, 70 persen penduduk di bawah garis kemiskinan. Ketimpangan sosial tajam (indeks Gini hampir 44, bandingkan dengan Indonesia yang 34) dan hanya 68 persen penduduknya yang melek huruf (sementara Indonesia: 90 persen). Syariah Islam, yang sibuk mengurus soal akhlak pribadi, tak kunjung tampak hendak melenyapkan kondisi sosial itu.

Bahkan satu kejadian menggambarkan bagaimana hukum syariah jadi soal yang gawat: kasus Aminah Lawal Kurami.

Maret 2002, perempuan berumur 27 ini dijatuhi hukuman mati dengan dirajam, karena mahkamah syariah di Kota Funtua menganggapnya telah berzina. Ia baru bercerai, tapi melahirkan. Perempuan miskin ini divonis tanpa didampingi pembela. Hanya satu hakim yang menjatuhkan hukuman. Aminah buta huruf, tak tahu undang-undang yang dianggap tak boleh dilanggarnya.

Tentu saja para hakim syariah tak menganggap hal itu bisa meringankan hukumannya. Harian The Guardian awal Oktober 2003 mengutip pernyataan Dahaltu Abubakar dari mahkamah banding di Katsina: ”Tak tahu undang-undang tak bisa jadi pembelaan.” Ini bukan hukum bikinan manusia, katanya. ”Selama kamu muslim, hukum ini berlaku buat dirimu.”

Syukurlah, setelah kampanye yang gigih di seluruh dunia—bahkan The Oprah Winfrey Show ikut membelanya—Aminah tak jadi mati dirajam. Tapi kejadian itu menunjukkan bagaimana penerapan syariah Islam justru mengungkapkan perbenturan antara hukum dan keadilan, antara iman dan kemanusiaan.

Tapi apa artinya kemanusiaan, apa artinya hidup, bagi yang disebut Soyinka sebagai ”pihak kematian”, the party of death? Sebab ”kematian” di sini tak hanya menyangkut disambutnya hukum rajam dan potong tangan, tapi juga menyangkut tafsir yang tak hidup lagi.

The party of death itu juga yang berkibar ketika pada tahun 2000 dan 2002 Nigeria, khususnya di Kota Kaduma, orang Kristen dan Islam baku bunuh. Dari sana Soyinka menulis sajak, Twelve Canticles for the Zealot, dengan nada yang marah dan kalimat yang menusuk. Sajak pemenang Hadiah Nobel untuk Sastra tahun 1986 itu tak begitu bagus, sebetulnya, tapi bukanlah ia punya alasan untuk tergesa-gesa?

Para zilot telah menyuarakan pekik pertempuran, dan Soyinka memandang mereka sebagai ”pelayan vampir”, yang hinggap di pucuk gereja, di menara masjid, di kupola katedral. Ia bertengger di tembok penyangga ”kesalihan”. Sang ”pelayan vampir” itu menunggu untuk loncat ke semua arah. Ia tak akan berangkat sendirian. Ia akan mengajak: ”Datanglah bersamaku atau, kalau tidak, ke neraka!”

Maka tangan sang zilot terulur, kata sajak Soyinka pula, tapi bukan untuk membuai ranjang bayi yang damai. Tangan itu ”cakar kebencian”, mencengkeram dari ujung ke ujung, ”Membubuhkan luka, membunuh, itulah segalanya”.

Zilot—sebuah pengertian dari Injil yang kemudian menggambarkan sikap orang fanatik yang militan—dalam sajak Soyinka kata itu menunjuk mereka yang atas nama hukum agama yang murni mengancam spontanitas kegembiraan hidup di atas bumi, di bawah langit, di antara makhluk yang fana. Maka dari Nigeria, anak tanah air itu berseru, menolak ”the party of death”: ”Aku datang dari tanah Ogun/negeri perempuan menampik cadar dan laki-laki/berbagi suka dengan bumi”.

Sumber: www.caping.wordpress.com

Tentang jiwa yang lain (4)

Menunggumu Hingga Entah

:Liemdays

Aku masih setia menunggumu. Lagi-lagi menunggumu. Selalu menunggumu.

“Kenapa kita jadi begini?,” tanyaku dalam kepenatan.

Kali ini aku menunggumu di wartel depan kosku. Meski lama, aku sengaja bertahan tidak kembali lagi ke kos. Mungkin karena aku terlalu terbiasa menunggumu disana, sehingga aku lebih memilih duduk diam dan menebak-nebak bahwa kau akan tiba dalam hitungan detik.

Alasan lainnya, karena aku tiba-tiba mudah tersinggung dengan sindiran dan ledekan teman-teman kosku. Dan seperti biasa, di kepalaku semua itu lebih mirip ejekan. Ah, mungkin aku memang terlalu sensitif. Menunggu memang berbeda dengan menanti. Entah apa lagi yang akan kulakukan jika kumenantimu yang begitu lama seprtihalnya ku menunggumu.

Menunggumu siang ini merupakan menunggu yang keberpuluh kalinya. Bisa dibilang, kini ketidaksabaranku telah melunak. Menunggumu kini, spontan membuatku menerawang pertengkaran kita yang cukup hebat. Ya, setidaknya selama dua tahunan bersamamu, pertengkaran ini yang terus menerus membuatku takut kehilanganmu.

Ketika itu, muaranya tetap sama, yakni menunggumu yang begitu lamanya. Satu setengah jam. Bayangkan. Bagiku itu waktu yang begitu lamanya. Kenapa? Karena seperti biasa, ketika kita berjanji pergi bersama, saat itu pula, pada jam itu pula, aku sudah siap seratus persen untuk pergi. Bahkan satu jam sebelum kau datang menjemputku, aku sudah siap segalanya. Acara-acara yang bisa dibilang lebih penting pun, aku batalkan hanya karena kita sudah berencana ke suatu tempat ataupun momen khusus. Sayangnya, seperti biasa, setengah waktunya hanya kuhabiskan untuk menunggumu.

Saat itu, amarahku memang tak terbendung lagi. Karena bagiku, kau memang sangat keterlaluan. Kau telah membuatku menunggu sekitar dua jam-an.

“Maksudmu apa? Kau pikir aku bodoh? Menunggumu selama itu tanpa ada kabar apakah kau batal menjemputku atau tidak! Kau sengaja membuatku menunggumu bagai orang tolol?,” aku marah besar.

Keterlaluan memang. Kau tak memberiku kabar, baik lewat sms ataupun telfon langsung. Parahnya, Hp-mu tidak aktif ketika berkali-kali aku menghubungimu, yang ada hanya tulalit. Ya, biasanya ketika kau telah berjanji menjemputku, aku tak henti-hentinya menelfonmu. Setidaknya aku bisa memastikan, apakah kau batal menjemputku atau kau terlambat mejemputku.

“Puas? Sudah membuatku menjadi orang paling tolol?,” aku masih membara.

Seperti biasa, kau hanya diam. Biasanya aku terima diammu. Tapi malam itu, aku lelah. Lelah jika hanya diam dan diam. Aku lebih memilih mengeluarkan kejengkelanku saat itu juga, daripada harus diam dan menyimpan kekecewaanku berhari-hari lamanya. Tapi kau tetap diam. Aku makin marah. Aku terhina. Diammu seakan-akan tak menghargai pertanyaanku. Tanpa komentar apapun. Hingga tiba-tiba di pinggir jalan dekat pohon besar, kau menghentikan mesin motormu. Namun kau tetap diam. Aku makin membara. Aku memutuskan untuk pergi tanpa harus membonceng di motormu lagi.

Ahirnya kau buka mulut, kau mulai menjelaskan alasan keterlambatanmu menjemputku. Namun aku masih membara. Karena saat itu masalahnya bukan hanya keterlambatanmu, tapi juga diammu yang telah menyepelekan pertanyaanku. Seperti biasa kau meminta maaf. Aku tak terima. Hingga ahirnya kita gagal menghadiri sebuah acara.

Kini, aku masih menunggumu seperti biasa, di wartel depan Kosku. Sambil sesekali meredam emosi yang ingin secepatnya kukeluarkan seperti biasanya. Meski sebenarnya, aku tetap menerima dalihnmu. Ya, selalu ada dalih kenapa kau membuatku menunggumu, meski ahirnya aku akan benar-benar mengutuk diri atas segala ketololanku.

Karena pada ahirnya pun, kau selalu punya dalih kenapa lagi-lagi kau membuatku menunggumu. Ke-aku-anku bukanlah aku yang mudah menerima dan dibodohi, dikerdilkan, dibuat tergantung dan dibuat menurut. Bahkan ketika kau dan aku telah mampu menguasai satu sama lain, bukan berarti kau bebas mendominasiku. Ya, kau takkan pernah mampu mendominasi-ku.

Jika sudah menunggu, menunggu dan menunggumu. Jika sudah sering kau berdalih. Jika sudah ada keterikatan dan ketergantungan yang absurd, aku hanya bisa menghibur diri. Dengan sesekali menerka. Mungkin saja kau ketiduran ketika kumenunggumu. Mungkin juga, kau tidak enak diajak ngobrol teman lamamu. Mungkin motormu dipinjam temanmu sehingga kau tak bisa pergi secepatnya. Mungkin kau menyelesaikan satu masalah hingga kau melupakan janjimu atau sengaja lupa. Mungkin juga kau sakit?. Mungkin juga kau berubah pikiran untuk menengokku, tapi pulsamu habis hingga tak bisa menghubungiku.

Atau mungkin juga ada perempuan selainku yang membuatmu melupakan janjimu tuk pergi bersamaku. Namun aku tetap diam ditempat yang sama. Di Wartel depan kosku. Menunggumu. Ya, aku masih menunggumu.

“Hingga kini, kupegang janjimu. Tapi esok entah,” ujarku spontan dalam hati.

Kumenunggu dalihmu. Hingga aku emosi dengan diamku, dan kau emosi dengan dalihmu. Atau aku emosi dengan kata-kata tajamku, sedang kau emosi dengan diammu. Begitu seterusnya. Hingga aku lelah menunggumu dan sejuta dalihmu. Dan hingga kau lupa akan kita. Atau mungkin aku lelah akan kita.

Tentang jiwa yang lain (3)



Perempuan yang berpikir dengan pikirannya sendiri

: Liemdays

“Aku adalah perempuan, karena aku tak mau menerima, aku tak mau disakiti, aku juga tak mau dipaksa, dan aku bukan kau!”

Siapa sangka aku akan melangkahkan kaki di tempat yang tak ingin ku pijak lagi. Tapi memang tak ada lagi pilihan. Aku harus melangkah mengikuti kemauan hati. Aku juga harus mampu. Jika tak begini, dengan apa aku memuaskan inginku. Bukankah aku pernah bilang, aku perempuan yang ingin menciptakan duniaku sendiri. Aku memiliki keputusan atas diriku. Keputusanku untuk memilih melebur dan menghindar dari apapun dan siapapun. Keputusanku untuk tidak berkomitmen pada siapapun dan apapun. Jangan katakan aku lemah, hanya karena tak mampu mempertahankanmu. Mungkin kau tak pernah tahu aku sangat menikmati betapa gaibnya perasaan ini bagiku.

Bahkan hingga kini, setelah sekian lama kita saling meninggalkan satu sama lain. Hingga

terkesan sekali bahwa diantara kita saling berlomba siapa yang lebih cepat untuk meninggalkan siapa. Perih memang terasa. Demi kebahagiaan, siapapun dan apapun pasti akan mengalami hal serupa. Ternyata sebanding, antara kebahagiaan yang ingin kita raih, dengan kepedihan yang kita rasakan. Ini adalah bagian dari proses hidup, katamu ketika itu.

Dulu dan kini, cintaku selalu mampu memaafkan segalanya. Harusnya aku mampu mengambil resiko menjadi diri yang tak lagi digerogoti rasa takut akan kau yang nyata-nyata meninggalkanku. Hingga aku lebih memililih ruang yang kurasa sunyi dan sesak, hingga aku tak tahan ingin lari darinya. Tapi aku tetap di sini, mencoba menguatkan diri tuk mendengarkan bagiamana kau akan membohongiku lagi. Mungkin kini aku lebih siap menerima resiko itu. Tak seperti beberapa tahun silam, ketika kau datang tiba-tiba setelah beberapa bulan sengaja menghilang dan tak memberiku kabar. Kau terlalu menikmati duniamu, dunia yang sampai kapanpun sulit kufahami. Mungkin karena aku tak berkeinginan memahaminya. Tapi aku menerimanya. Bersamamu, aku laiknya istri muda yang kau buat takut dan harus mengendus-endus setiap ingin menikmati waktuku bersamamu.

Ya. Di tengah kegalauanku tuk kembali mempercayaimu, tiba-tiba kau datang. Tapi saat itu kau tak sendiri, kau datang dengan keputusanmu tuk berkomitmen dengan perempuan yang mungkin lebih segalanya dariku. Spontan aku tertawa. Mungkin menertawakan diri yang kata mereka aku begitu tolol, dan menertawakan kisahku bersamamu yang begitu klise.

“Kau keterlaluan!” protesku. Setidaknya kata-kata itu mampu mewakili kekecewaanku padamu. “Bukankah ini yang kau inginkan? Kau selalu menciptakan kebenaran sendiri. Aku lelah berdebat denganmu. Itu satu hal yang menggangguku. Kalimat-kalimatmu yang tidak jelas. Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, katakan saja!” Kebenaran itu seperti pisau merobek harga diriku.

“Ini berbeda! Kau berdusta di saat aku mencoba mempercayaimu lagi. Apa dia lebih segalanya dariku? Apakah lelaki selalu begitu? Selalu ingin memulai dan memutuskan?” Kau hanya diam.

Artinya aku harus segera menghentikan pembicaraan. Kalau tidak, suasana bisa buruk, hingga berakhir di pertengkaran. Bagaimanapun bila menyentuh soal perasaan tentu sangat sensitif. Sangat egois.

“well! hal-hal yang kita pelajari dari orang yang kita pikir kita kenal. Sudahlah lupakan!.” aku mencoba bersikap bijak.
Aku tertawa hampir histeris. Mataku adalah mata perempuan yang terbakar penderitaan. Dan aku takkan membiarkan kau menerobosnya. Berfikir bahwa akhirnya kau, setelah bertahun-tahun telah membuatku gila. Aku menerima, sepertihalnya menerima kepura-puraanmu tentang pertemuan-pertemuan kita selama ini. Setelah ini, aku sadar, takkan ada lagi yang mampu memecahkan lamunanku. Aku adalah pihak yang terluka. Rasanya aku tak mampu lagi menolehmu.

Aku telah berkata terlalu banyak, berbuat terlalu banyak. Aku menyintaimu, tetapi mungkin aku telah menyiksamu tanpa pernah kusadari. Penyesalan bertumpuk-tumpuk mengusikku di setiap kesunyian malam. Kau, lelaki yang sudah membenciku selamanya, dan aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Aku jadi merasa takut akan datangnya musim yang tak pernah tak berganti. Mungkin aku memang pantas dibenci. Tuhan tahu itu, seperti yang tak pernah ku sadari, aku sudah cukup melukaimu. Sejak kuyakin kau takkan lagi menolehku, aku seakan di dunia lain, tapi ini nyata. Meski aku sulit tuk menyadari bahwa aku memang gagal mempertahankanmu.

Aku yang tak pernah mau menetapkan diri bahwa kau tak pernah menginginkan keberadanku. Kini seperti melemparkan diri ke dinding batu. Dan aku sadar, ini harus dihentikan.

Ku akui tidak ada yang akan mengubah hubunganku denganmu yang terasa makin dangkal. Sudah waktunya aku menjauh darimu untuk selamanya. Mencoba melawan emosiku terbukti tidak berhasil, dan setiap kali melihatmu, rasanya aku akan semakin sakit hati. Dan dengan keras kepala, aku harus menutup hatiku dengan aman dalam peti es. Kini, setelah bertahun-tahun menantimu, berharap, dan menderita, hanya agar bisa bersamamu sewaktu-waktu.

Tapi kini aku memenuhi undanganmu tuk mendengarkan lagi kata-katamu. Aku sudah terlalu lama hidup dalam penantian. Aku harus mencari kehidupan untuk diriku sendiri tanpamu, betapapun hal itu akan menyakitiku. Dan sekali lagi, aku siap mengambil resiko. Tanpa harus merasa kehilangan apapun. Aku tetap dengan diriku. Dan aku bukan perempuan yang akan membiarkan kesendirian menggerogoti akar kehidupanku. Meskipun kau tak lagi menolehku.

Mungkin aku tak mau lagi mendengarkan kata-katamu. Apalagi menatap sorot matamu. Biarlah yang terjadi padaku karena ketakutanku yang begitu tolol. Kau lelaki matang dan layak untuk berkomitmen. Sedang aku? Aku perempuan yang tak lazim disebut perempuan. Aku adalah perempuan berumur yang tak pernah menyadari kebutuhannya sebagai perempuan, itu yang selalu mereka tuduhkan padaku. Padahal, aku seperti ini karena aku ingin hidup dengan caraku sendiri, dengan tak harus mematok segalanya dengan penuh kekhawatiran.

Aku terbiasa melewati jalan yang penuh terjal. Penuh perdebatan. Membiarkan segalanya begitu kusut, dan jangan coba-coba mengambil benang merahnya atau bahkan coba-coba meluruskannya. Aku ingin semuanya tumbuh dan mengalir apa adanya. Dengan begitu aku akan berusaha membuat segalanya seperti yang kuinginkan, tidak kurang tidak lebih. Hal itu juga membuatku terlindung dari segala macam keterlibatan emosional. Aku akan tetap mendaki, berpikir dan bergerak lagi untuk meluruskannya sendiri, tanpa uluran tanganmu ataupun kecupan lembutmu di ubun-ubunku, tanpa harus meminjamkan bahumu untuk gundahku.

Inginku, suatu saat kau menjadi duniaku, dunia yang ingin ku raih sendiri dengan segala dayaku, dan inginku. Bukan dunia yang seperti kau dan mereka pikirkan. Bagiku, banyak cara manusia untuk tetap hidup tanpa harus mengikuti arus kehidupan yang ada.

Aku perempuan yang mempunyai sejarah sendiri, dan bukan perempuan yang mau mengulang sejarahnya dengan lelaki yang nyaris membuat duniaku terasa sempit, terbatas, dan membingungkan. Aku yakin, tak semua perempuan adalah perempuan, karena Tuhan tidak menggunakan jari-jarinya dari satu tangan. Biarlah semuanya berjalan apa adanya. Biarlah aku menemukan diriku dalam dunia entah. Karena dunia yang sebenarnya, terlihat begitu munafik. Semua manusia ingin diperhatikan, ingin diakui lebih dan berbeda. Mustahil semuanya berjalan

Minggu, 12 Oktober 2008

tentang jiwa yang lain (1)

Hujan, Pulanglah

Oleh : Yetti AKA (January,2,2008)

Runi tidak tidur. Angin Oktober menghempas dinding bercat putih. Senja tadi sedikit gerimis, bisa jadi akan hujan. Runi mulai rindu nyanyi katak dalam rawa. Selain Runi, tidak seorang pun suka suara katak, terlebih Yayu, anaknya. Yayu bilang suara katak mengerikan bila terdengar tengah malam sehabis hujan. Karenanya ia senang sekali mengetahui rawa-rawa itu akan ditimbun dalam waktu dekat, dan rumah-rumah sederhana segera berdiri di atasnya berikut fasilitas umum. Kasihan katak-katak di sana, pasti mereka mati semua, Yu, kata Runi agak melankolis. "Ibu semakin mirip Ayah, semua dibawa ke dalam hati." Yayu cepat-cepat pergi. Sedangkan Runi terlongo sendiri mendapati perasaan Yayu semakin kaku.

Hujan, pulanglah.

Kau nakal, bisik Runi sendu, ia membuka lagi pesan singkat suaminya, seseorang yang sedang tertawan sepi. Sudah sekian hari mereka berpisah. Ini untuk pertama kali. Mereka seharusnya tetap bersama, jika saja Yayu tidak memintanya ke Bengkulu. Pulang kampung sekali-sekali, Bu. Kami semua kangen, terlebih cucu-cucu Ibu. Bukankah Ibu sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di tanah yang terus menahan rindu, begitu ujar Yayu.

Seharian Runi memikirkan ucapan Yayu. Anak perempuannya itu masih ingat cara mencubit perasaannya, membuat ia tergugah. Bengkulu selalu saja menahan rindu. Kadang memang tak perlu berucap sedikit pun. Ia ada: seperti getar. Begitu kira-kira isi surat seorang sahabat padanya (seseorang yang pergi pada pagi muda). Runi menutup kedua mata. Banyak kenangan kembali mekar dalam ingatan. Kota kecil berudara sejuk, tanah kosong bersemak, jalan-jalan belum dipadati kendaraan umum, pasir putih berkilau, rumput-rumput hijau di samping rumah, Fort Marlborough, perayaan Tabut, rumah pengasingan Soekarno, dan Raffles Park.

Raffles Park. Jangan bayangkan jika tempat itu sebuah taman penuh bunga dan burung- burung kecil hinggap di tanah mematuk serangga, cacing, remah roti, sementara orang-orang menikmati Minggu pagi bersama keluarga atau kekasih di atas bangku-bangku kayu dalam kehangatan cuaca bulan Juli. Di sanalah Runi bertemu penyair itu. Sore hari warna jingga. Di taman yang tidak lain sebuah monumen kematian seorang residen Inggris dalam peristiwa mount felix, Thomas Parr. Perkenalan yang terasa aneh, mendebarkan. Mereka berbincang singkat.

"Bisakah pertemuan ini diteruskan. Kita saling meninggalkan nomor handphone dan alamat rumah sebelum pamit," begitu kata lelaki itu.

"Maksudmu?" Runi tidak cukup mengerti.

"Pertemuan ini, bagiku, tidak cukup sekali. Jika tidak ada pertemuan kedua di sini, bolehkah aku memintanya di tempat lain."

Wajah Runi memerah dan ia tetap tidak percaya lelaki. Ia pergi. Buru-buru menjauh. Lelaki itu tidak mampu mengejarnya.

Maka lelaki itu melepaskannya. Kali itu.

Besoknya Runi kembali ke taman. Berkali-kali. Selalu lengang dan dingin, selayak kuburan. Hanya ada orang-orang lewat atau kesibukan pasar Brokoto, tidak jauh dari Raffles Park. Ia menunggu, sebagai seseorang yang terjerat. Ini sulit dibayangkan, sebab ia sering meyakini hanya akan menyerahkan hati pada pemilik sebentuk bibir cokelat muda yang tidak sengaja tertangkap mata tengah menghirup kopi di sudut kafe sambil membaca sebuah buku. Lelaki yang sungguh seksi, bukan? Tapi kemudian, entah kenapa, hatinya terasa hanyut ke arah seorang pengembara kumal yang tertangkap mata tengah memandangi bangunan beratap bulat telur yang disebut Raffles Park itu. Sekilas, ia lelaki yang terlalu biasa. Rambut tipis sebahu. bibir kelewat cokelat. Mata terlihat merah dan berat.

"Bisakah pertemuan ini diteruskan." Runi mendengar suara itu lagi. Berulang kali, seperti kerumunan lebah sedang memburu si penganggu.

Runi berkata, “Bawalah aku.”

"Bila kau mau jadi hujan, aku akan membawamu hingga kau tidak bisa kembali."

Hujan. Runi menggigit ujung kuku yang mulai panjang. Lelaki itu sering memanggilnya hujan. Runi suka sekali panggilan itu. Romantis manis. Runi rindu. Juga bau rokok yang pekat itu, yang kadang membuat Runi harus mencak-mencak karena ia tahu betul lelaki itu tidak bisa merokok lebih dari dua batang dalam sehari karena sesak dada.

"Kau pergi saja sendiri, Run. Aku tidak bisa meninggalkan rumah. Siapa yang akan menjaga bunga-bunga, menyiram tanah yang mengering dalam pot. Pergilah akhir bulan ini. Beberapa hari saja kau di sana," begitu cara lelaki itu menolak pergi bersama Runi. Perjalanan bukan lagi milik lelaki itu. Ia lebih menikmati tinggal di rumah, merawat bunga-bunga. Lelaki yang jatuh cinta pada bunga, Runi sering berkelakar. Ya. Di mana-mana banyak lelaki mulai mengerti bunga, mencari dan memeliharanya. Bahkan obrolan para lelaki, lebih sering tentang nama-nama bunga baru, harganya berapa, dan di mana bisa mendapatkannya.

"Yayu minta awal bulan ini. Menurut Yayu, cucu-cucu kita sangat berharap sebulan penuh aku bersama mereka, jalan-jalan sore menyusuri Pantai Panjang dan Tapak Padri. Kau tahu kan mereka suka sekali lihat laut."

"Tapi kau juga tahu aku tidak terlalu suka sendirian, Run. Aku tidak biasa tanpa kawan bicara. Kau masih ingat, bukan? Seseorang yang mulai tua acap kali merasa ketakutan tak bersebab."

"Aku tidak mau cucu kita sedih. Sekali saja, masa tidak bisa memenuhi keinginan mereka." Runi menatap suaminya, minta sedikit pengertian, dan sekilas ia melihat persetujuan itu menyala kecil di mata lelaki yang suka memberinya kata-kata, sejak dulu, ketika mereka berpacaran.

"Terima kasih, kau masih saja mau mengalah," ujar Runi haru. Mereka bertatapan lama, seperti jatuh cinta pertama kali di Raffles Park.

Siang itu Runi berangkat dari Padang. Suaminya mengantar ke loket. Mereka berpisah saat bus membawa Runi, dan lelaki itu membalikkan punggung menuju arah pulang ke rumah bunga yang memancarkan kehangatan kombinasi warna-warna. Di sanalah perasaan lelaki itu bersinggah, tempat kawan bercakap selain Runi, menceritakan segala hal; kedengkian, rasa cemburu, kemiskinan, kebodohan, korupsi, kesedihan, juga kebahagiaan.

Untuk itu sudah beberapa hari ini Runi gelisah. Lebih-lebih seusai gempa mengguncang Sumatra. Sore itu, bukankah ia hampir menangis membayangkan penyair tua membuat puisi dari retak tulang. Betapa sesungguhnya lelaki itu tetap saja tidak bisa sendirian, tanpa kehadiran dirinya.

"Semua baik saja, Run?" begitu suaminya menelepon beberapa jam setelah itu.

Runi gemetar dan hanya berkata, "Aku ingin bersamamu." Lalu Runi menangis sampai telepon terputus.

Besoknya Runi bilang pada Yayu ingin kembali ke Padang. Ia tidak bisa membiarkan kecemasan menumpuk dalam dirinya, membuat ia menjadi seseorang yang tidak lagi berbahagia.

"Jangan sekarang, Bu. Jangan sakiti anak-anak. Mereka sudah membangun mimpi itu sejak lama, jauh sebelum Ibu memutuskan datang ke sini." Wajah Yayu agak tegang.

Runi bingung. Cucu-cucunya tidak boleh merasa kecewa. Ia mau menjaga perasaan mereka. Kasihan jika mereka harus kehilangan wajah lucu. Runi menyerah, menyandarkan punggung ke dinding dan minta ditinggalkan sendirian. Beberapa jam Runi membiarkan sudut matanya basah.

Tersenyumlah selalu, Runi. Aku suka wajahmu yang berkeringat itu dihias senyuman.

Runi belum lupa cara penyair membujuknya. Lalu Runi mulai tersenyum, lebih manis dari biasa.

Malam ini Runi juga tersenyum saat membaca lagi pesan singkat suaminya: Hujan, pulanglah.

Runi bisa mengerti betapa kosong ruang dada lelaki itu, tempat biasanya ia berlindung.

Lalu hujan turun. Seharusnya Runi senang, katak-katak di rawa akan segera bernyanyi seusai hujan, menghibur hatinya yang nelangsa, tapi tiba-tiba di mata Runi berkelebat orang-orang dalam tenda warna-warni, anak-anak kecil kekurangan susu menangis semalaman, dan orang-orang setua dirinya menahan reumatik di tengah serbuan hawa dingin. Penyair, beri tahu aku, puisi macam apa ini, teriak Runi dalam gemuruh hujan yang makin lebat.

***

Hujan di sini, Run, tidak henti -henti. Bagaimana di sana. Ah, kau bilang cuma sekali saja hujan, hanya malam itu, saat kau tidak bisa tidur. Apa kau dengar nyanyian katak, Run. Tidak, aku tidak dengar suara katak, katamu ketika itu. Kau malah menangis, mirip anak kecil. Berhenti menangis, Run, Tersenyumlah selalu. Aku suka wajahmu yang berkeringat itu dihias senyuman.

"Kau nakal." Beberapa kali Runi berkata demikian bila ia menelepon. Suara Runi tetap saja manja.

Lelaki itu kembali menyalakan api rokok, untuk yang ke lima. Bila ada Runi, pasti saja Runi akan bilang: Coba saja, Penyair, jika kau habis lima batang, maka aku dapat melakukannya hingga sepuluh.

Ia tidak pernah bisa membuat Runi marah. Lelaki itu pasti berhenti, dan menunjukkan bahwa ia seseorang yang pantas dicintai. Tapi kini perempuan itu jauh darinya. Alangkah pahit pagi tanpa Runi. Tanpa seseorang yang menyuguhkan dua gelas kopi dan surat kabar di meja bambu.

"Bawalah aku."

Kata Runi pasti. Maka, bukankah ia telah membawa Runi meninggalkan berkotak-kotak kenangan di kota itu, bertahun-tahun lalu. Mereka pergi sebagai sepasang manusia tanpa ikatan pada sebuah tempat. Bagiku, Runi, setiap tanah adalah rumah, tempat aku memahat kata-kata. Tidak ada kampung halaman dan kata pulang. Maka jika kau mau jadi hujan, aku akan membawamu dan mungkin kau tidak bisa kembali.

Runi mau jadi hujan. Bersedia menjadi seseorang yang direbut dari masa lalu. Tidak apa, ujar Runi penuh keyakinan, aku dan kau akan pergi ke setiap jengkal jalan, ke kota-kota lengang, atau tempat-tempat yang bahkan kita belum tahu sama sekali apa namanya.

Itu janji Runi pada penyair, pada seseorang yang menyerahkan hidupnya pada kata sepi.

Bertahun-tahun mereka pun sudah terbiasa bersama.

Sungguh pahit bila kini Runi tidak menemaninya. Ia padam. Seseorang yang bahkan tidak bisa lagi berdiri hanya untuk sekadar membuat segelas kopi, mengambil surat kabar di bawah pintu, membuka jendela, menyapa dedaun pagi hari dan matahari.

"Hujan, pulanglah." Lelaki itu menghitung gelas-gelas dengan sisa kopi sudah mengendap dan basi. Ia menyeringai. Runi belum akan pulang padanya. Masih beberapa lama lagi.

Ia tidak mungkin menunggu selama itu. Ia merasa ada yang akan datang menagih janji, menjadikannya sebuah puisi yang abadi.

hujan selalu pulang, menyapa bekas jejak yang mengering. orang-orang menanti, bermusim hujan jadi rindu perdu dan kenangan kekasih bunga. pulanglah selalu hujan.

Recipient:

seruni

Sent:

05:21:05

03-10-2007

***

Runi bangun tidur ketika pesan singkat—tentu saja hanya dari lelaki itu–sampai padanya. Lama Runi termenung. Sesuatu yang terasa ngilu tiba-tiba menyerang dada, membuat ia merintih panjang, seakan-akan ia amat sendiri dalam rumah bunga yang telah layu.

"Kau kenapa, Sayang," Runi bergumam, "Kau harus menungguku, aku akan segera pulang sebagai hujan. Jangan ke mana-mana, sambutlah aku di muka pintu."

Hujan turun pagi itu. Deras.

Sumber : Media Indonesia Online

Tentang Jiwa yang lain (2)

Jalan Soeprapto

Yetti AKA (April 2, 2008)


TURUN di Simpang Lima lepaslah pandang ke arah patung kuda. Beberapa waktu lalu -aku lupa tepatnya kapan, segalanya cepat berubah, tiba-tiba aku sudah berada di tempat asing dengan segala sesuatu serba baru- bukan patung kuda itu yang berdiri di sana, melainkan patung perahu indah yang mampu membawaku ke dunia khayali; pelayaran ke pulau-pulau rempah di tengah lautan luas pada masa dulu, embusan angin menerobos batas-batas, membuat asin laut menguar di desa-desa nelayan pinggir pantai. Kenapa kukatakan demikian, karena aku memang sangat suka apa pun tentang laut, terutama perahu-perahu nelayan yang mengembangkan layar melawan cuaca buruk dan ombak besar pada waktu tertentu. Eksotis.


Dan kau malah mengajakku bertemu di Simpang Lima, sebab hanya tempat itu yang paling kau inginkan setelah aku menolak tawaranmu bertemu di hotel tempat kau menginap. Celakanya lagi, aku sudah berkata, "Baiklah, tunggu aku."


Kau mengancam, "Awas kalau terlambat. Aku bisa menghukummu, Nona."


Aku tidak tahu apa aku benar-benar menginginkan pertemuan itu, bahkan ketika aku sudah menunggumu, berdiri di pinggir jalan menghadap patung kuda yang tidak terlalu kusukai itu. Aku merasa biasa-biasa saja, seakan kedatanganmu bukan lagi sesuatu yang bisa mengaduk-adukku. Terlebih, sebelum ini kita sudah membuat sejumlah janji pertemuan di kota lain. Hubungan pertemanan yang hangat, begitu kita beralasan tentang pertemuan demi pertemuan itu.


Seorang diri di tepi jalan, dekat traffic light, aku menjelma sebutir buah jatuh yang diabaikan orang-orang. Aku hanya bisa menciptakan keasyikan sendiri dengan menerka-nerka berapa nomor sepatu orang yang lewat di depanku atau menguping sebuah rahasia tidak terduga tentang penyelewengan dana sebuah kantor pemerintah dari dalam mobil berkaca gelap. Tapi sayang, seorang pengamen justru mendekat ke arahku, minta permisi menyanyikan sebuah lagu sendu era 80-an. Mataku terasa sedikit tegang sebelum lagu itu benar-benar berakhir. Kemudian pengamen itu bertanya, bagaimana kalau satu lagu lagi. Aku tertawa. Pengamen itu pergi setelah ia menyanyikan sejumlah lagu lama.


Aku kembali sendiri, dan aku lebih suka begini. Tanpa siapa-siapa. Aku bisa menyaksikan banyak hal. Seperti di ujung sana, tepat di depan lampu merah dari arah Jalan Soeprapto, aku melihat kerumunan anak-anak tibatiba pecah seperti bunga durian gugur ditiup angin. Berserakan. Pertunjukan itu dimulai -drama yang seharusnya bisa menganggu perasaan siapa saja bila kebetulan lewat di sana. Dari manakah mereka datang. Aku tahu pasti, tempat ini hanya kota kecil yang dulu begitu lugu dan memiliki harga diri. Nyeri sekali, rasanya, bila sekarang mendapati mata bening kanak-kanak yang lucu berhamburan di jalanan. Anak-anak itu dengan mudahnya berbohong; memasang mata sedih, memelas-melas, bahkan terkadang setengah memaksa. Siapa yang merebut dunia bermain mereka. Dunia bau kencur atau seumur jagung itu.


Aku ingin sekali memikirkannya lebih serius sekali waktu. Ya suatu pagi, barangkali, ketika aku bangun tidur dan menyeruput segelas jus belimbing sambil menunggu embun benar-benar luruh dari dedaunan. Saat-saat di mana hatiku sedikit ringan. Sedikit lepas. Bukankah kita perlu berada dalam situasi yang tepat untuk berpikir tentang sesuatu, sekecil atau sesederhana apa pun itu.


Tiga puluh menit aku menunggu, kau baru muncul. "Apa aku membuat Nona menunggu lama," kau terlihat santai. Pipiku sudah merah terbakar. Aku tidak bisa lagi tersenyum. Hatiku terasa keras. Kita jalan berdiam-diam, dari Simpang Lima hingga Jalan Soeprapto tanpa tahu tujuan kita sesungguhnya.


"Kita cari makan yang enak," suaramu terdengar lebih tenang, jernih dan terkendali. Tidak sepertiku, lebih sering meledak-ledak, terutama dalam keadaan marah atau terpojok. Kau pernah bilang, begitulah kebanyakan perempuan, suka bermain hati. Kalimat yang sama sekali tidak aku sukai karena seolah di balik kata-kata itu kau mau berkata, laki-laki tentu tidak demikian, mereka lebih rasional, lebih cerdas karena itu mereka ditakdirkan berdiri di depan.


Aku menahan sesuatu di dada. Bukan waktu yang tepat untuk berdebat soal lelaki dan perempuan. Bukan tempat yang tepat.


"Hei," kau memecah ketegangan di kepalaku.


"Bagaimana kalau minum teh’di rumah saja," tawarku nyaris kehilangan semangat. Aku sengaja bersikap begitu agar kau menyadari kalau aku mulai tidak menyukai situasi.


"Tidak. Tidak. Itu bukan ide yang bagus. Kau tidak boleh berpikir apa pun mengenai rumah karena kita tidak akan pulang sebelum menghabiskan waktu di bawah langit kelabu ini. Ingat, seminggu lalu aku sudah minta sedikit waktu padamu dan kita sudah sepakat saat kita membuat janji pertemuan di kota kecilmu ini. Aku sama sekali tidak berharap kau mengkhianatinya."


Aku tersenyum malas,’berdecak kecil. Kukira, kota tempat aku tinggal tidak menempatkan urusan makanan di tempat yang paling penting, sebagaimana kota-kota lain. Teman-temanku bilang, itu karena tradisi orang-orang di sini yang lebih senang makan di rumah ketimbang di luaran. Bisnis makanan akhirnya tidak begitu ramai. Untuk itu jika suatu hari menginjakkan kaki di kotaku, jangan tanyakan tempat makan yang enak. Aku tidak akan pernah tahu ke mana membawamu, selain ke rumahku. Aku bisa menyuguhkan segelas teh aroma melati dan satu toples kacang tojin sebelum hidangan makan malam di meja makan, tentunya. Tapi kau telah menolaknya sebelum aku berpikir apa aku harus mengganti menu kacang tojin itu dengan yang lain atau mengganti teh aroma melati dengan aroma asam manis kopi Sumatera.


Kau tertawa sangat lebar, "Kenapa kelihatan bingung."


"Entahlah," ujarku ringan.


Tawamu tertahan. "Aku tahu kau sedang berpikir ingin mengacaukan pertemuan ini, dan kau tengah memainkan perasaanmu."


Kembali kita saling diam. Kaki kita bergerak lambat menyusuri Jalan Soeprapto yang tidak terlalu ramai; beberapa remaja berseragam sekolah tertawa ceria, penjual CD bajakan di pinggir jalan tengah termenung dan sesekali berusaha tersenyum pada orang-orang berwajah dingin yang kebetulan lewat. Berada di Jalan Soeprapto, mengingatkanku pula pada beberapa kawan. Andom dengan bukubuku tergelar di lantai dingin depan sebuah toko manisan (barangkali milik Cina), masihkah dia memasang tulisan "menerima buku bekas". Juga Bagus dengan macam-macam kerajinan dari kulit kayu. Lalu sedang melukis apakah Safrin dan Topik sore ini, ketika udara mulai terasa panas dan awanawan bergerak lambat di langit sana. Acank, apa kabar. Mungkin saja ia tengah mengaransemen sebuah lagu baru atau menulis puisi pendek. Sudah lama aku tidak bertemu mereka. Beberapa bulan ini aku lebih sering keluar kota, mengikuti seminar atau acara. Alasan lain, bisa jadi karena aku mulai ngeri berada di Jalan Soeprapto, apalagi harus melewati Simpang Lima, tempat puluhan mata kanak-kanak dibiarkan berhamburan. Bergulir begitu saja.


"Tunggu sebentar, aku belikan kau es krim." Kau berhenti dan singgah di salah satu restoran siap saji yang sedang sepi pengunjung.


Beberapa menit kemudian kau keluar dengan dua mangkuk kecil es krim rasa vanilla yang disiram coklat di atasnya. Kesukaanku.


"Kau gila," kataku,"’kita jarang sekali menemukan seseorang makan es krim sambil berjalan di sepanjang Jalan Soeprapto, apalagi ia seorang perempuan, dan berumur hampir tiga puluh tujuh tahun."


"Kalau lelaki?"


"Kadang lelaki bisa makan di mana saja. Mana ada orang yang begitu peduli. Lelaki bebas peraturan."


"Lelaki yang malang, hahaha…." Kita tertawa begitu ekspresif. Hatiku lumer sebagaimana es krim mulai menetes di jejari tanganku. Sudah lama aku tidak begini terbuka, telah bertahun-tahun ini. Tepatnya sejak aku menolak seseorang yang mencuri seluruh diriku, dari ujung rambut sampai ujung kaki, karena satu alasan: aku benci sebuah pernikahan, sementara dia menganggap sudah waktunya untuk menikah atau akan terlambat. Perpisahan yang membuatku demikian biru. Beberapa hari aku hanya bisa berada di tempat tidur. Membuka kembali beberapa surat lama dan merobeknya kecilkecil jika ternyata aku tidak menyukai beberapa kata di dalamnya.


Kami memutuskan duduk di depan toko sepatu, dekat sekelompok anak muda menjual macam-macam souvenir.


"Kenapa kau ingin kita bertemu di kota kecil ini," aku bertanya pelan.


"Kau terlalu terburu-buru," sindirmu.


Kembali kami tertawa, tidak peduli menjadi tontonan orang-orang.


"Waktu bergerak cepat, bukan. Sebentar lagi malam datang," kataku.


"Aku ingin kita ditawan malam tepat di Jalan Soeprapto ini, tempat sepuluh tahun lalu kau menolakku. Dulu aku terluka jika mengingat peristiwa itu, tapi sekarang aku sudah bisa tertawa."


Aku menangkap segaris sembilu keluar dari tubuhmu, dan matanya mengarah tajam ke dadaku. Jangan. Jangan. Itu sudah berlalu. Telah diredam waktu. Aku merintih. Aku mengeluh. Aku cair bersama sisa es krim dalam mangkuk kecil. Aku ingin jadi es krim. Manis. Harum. Lezat. Terutama karena es krim disukai anak-anak. Aku mau anak-anak. Pipi montok, aroma bedak, minyak telon dan tangis keras malam hari. Tapi aku tidak bisa menikah. Aku takut tidak cocok. Aku ngeri membayangkan perpisahan. Agamaku melarang perceraian kecuali kematian. Lelaki itu meniup udara kosong. Aku menyandarkan tubuh yang mulai terasa berat pada tiang bercat putih kusam. Sampai hari gelap, aku dan dia belum beranjak. Kami hanya diam serupa patung perahu di Simpang Lima. Aku tinggalkan dia. Aku berlayar naik perahu itu. Pelayaran yang hening dan sepi. Hingga dia menarikku kembali dan berbisik, ayo kita pulang! Dan aku tahu, itu artinya aku dan dia sudah berakhir.


Sepuluh tahun, dulu.


Sudah berlalu. Jauh.


Kini ia kembali tumpah dan berceceran di Jalan Soeprapto. Betapa aku ingat sekali detailnya, betapa aku ingat warna muram hari malam. Burung-burung walet berterbangan di atas ruko di Jalan Soeprapto. Suara mereka riuh, membuat tubuhku meremang. Suara yang membuatku tidak pernah nyaman mendengarnya. Entah ada apa.


Jalan Soeprapto akan makin tua. Orang-orang pergi. Kau pergi. Lantas aku menjadi perempuan yang menumpuk ketakutan-ketakutan di atas kedua kaki. Lalu masihkah mata kanak-kanak akan berhamburan di Simpang Lima, dan tidak pernah tahu jalan pulang, seperti aku yang tidak pernah bisa pulang pada lelaki.


"Kau tahu besok barangkali matahari benar-benar lupa untuk kembali hingga kita terkurung dalam malam selama-lamanya," kau berbisik.


Aku tidak mungkin bisa, kataku untuk kesekian kali. Aku harus keluar dari Jalan Soeprapto, melangkahkan lagi kedua kakiku yang makin berat ke tempat-tempat terjauh. ***

(sumber: adaapa.info.com)

Jumat, 26 September 2008

Ramadhan: dari orang-orang yang terpinggirkan hingga ketinggian spiritualitas

Oleh: Alimah


Apa yang membuat bulan Ramadhan menjadi begitu penting? Mengapa tidak seperti ini saja setiap bulan?. Mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sederhana sekali, ini erat kaitannya dengan kondisi manusia. Kita belum mampu mempertahankan satu level kesadaran akan Allah selama setahun penuh. Seandainya kita mampu, Ramadhan tidak akan lagi menjadi Ramadhan. Pun, jika musim panas tidak diimbangi dengan musim dingin, ia hanya akan dianggap sebagai “suatu waktu”, bukan sebagai “musim panas”. Maka jangan pernah bertanya mengapa tidak musim panas saja selamanya. Lebih baik bertanya “apa yang harus dilakukan pada musim panas agar kita bisa menikmatinya dan tetap menyiapkan datangnya musim dingin”.


Mari kita tengok sekilas sejarah Nabi Muhammad SAW terkait bulan suci ini. Bulan ini merupakan suatu masa ketika Nabi secara rutin berdiam diri di pegunungan Makkah untuk memohon perlindungan dari kejahatan dan ketidakadilan masyarakat Arab sebelum Islam. Di Gua Hira-lah ia menerima wahyu pertama. Lama setelah itu, setelah Islam meluas, praktek i’tikaf—berdiam diri di masjid selama satu bulan penuh dan sepertiga terakhirnya—menjadi kebiasaan di antara orang-orang muslim yang ahli ibadah. Bulan ini diakhiri dengan menyucikan diri dengan zakat fitrah, semacam sedekah yang diberikan pada fakir miskin untuk mengesahkan puasa dan memastikan bahwa puasa yang telah dilaksanakan layak dirayakan.


Di sini, kita bisa merefleksikan beberapa kesulitan dan keuntungan yang ditimbulkan oleh bulan Ramadhan: masalah orang yang terpinggirkan (orang miskin dan perempuan), masalah sulitnya memberi makanan jiwa, dan terakhir, relevansi puasa dengan kehidupan kita saat ini.


Seringkali, saat kita merenungkan tentang penderitaan yang ada di sekililing kita—semua terjadi karena tangan kita sendiri—seakan heran mengapa Allah masih membiarkan dunia ini tetap hidup. Apakah ini karena ibadah dan keikhlasan sedikit orang yang dalam beberapa waktu yang lama hanya untuk shalat dan berkontemplasi.


Tetapi, dengan pikiran menghibur semacam ini masih saja ada mendung gelap. Meskipun di beberapa belahan dunia perempuan juga sering mengisi masjid, kegiatan berdiam diri di masjid selama sepuluh hari terakhir bulan ramadhan dibatasi hanya untuk laki-laki. Respon terhadap kesadaran akan keadilan gender (relasi antara laki-laki dan perempuan) dalam Islam atau dalam masyarakat Islam, memang sangat beragam. Sekali lagi di sini kita seakan menemukan persekongkolan antara ketidakadilan dengan agama terhadap perempuan.


Hari-hari terakhir Ramadhan juga diperuntukkan bagi setiap orang yang berpuasa agar ikut andil dalam sesuatu yang disebut sebagai “harga hari raya” bagi orang-orang yang tidak mampu. Hasil yang minimal diperbaiki dan disucikan sebelum seseorang bersujud di pagi hari pada hari raya yang menandai berakhirnya Ramadhan.


Dengan demikian, kita diingatkan bahwa kewajiban puasa—di samping demi kedisiplinan kita sendiri serta mendapatkan ridha Allah—juga berkenaan dengan tanggung jawab terhadap sekeliling kita. Karena Ramadhan sendiri merupakan bulan yang menunjukkan kasih sayang Allah yang tinggi. Selain itu, menunjukkan perjuangan yang lebih intensif untuk meraih kedekatan dengan Allah menahan diri dari makanan, minuman, aktivitas seksual dari fajar sampai matahari terbenam di satu sisi, dan meningkatkan aktifitas ibadah di sisi lain. Aktivitas itu akan berlangsung selama satu bulan, dan merupakan bagian intrinsik dari perjuangan ini.

Akan tetapi, Ramadhan ada yang lebih penting dari pada aktifitas formal di permukaan. “banyak orang,” kata nabi, “berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar, dan shalat tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lelah.”


Puasa merupakan satu pilar Islam, dan sebagaimana pilar semenarik apapun bentuknya dari waktu ke waktu dimaksudkan untuk menyanggah struktur: kita membangun di atasnya. Dengan demikian, selama satu bulan itu kita diajak untuk belajar tentang kedisiplinan, kesabaran, pengendalian hawa nafsu dan pengorbanan. “jika ada orang yang ingin mengajakmu berdebat maka katakanlah aku sedang puasa” kata Nabi.


Puasa, sekali lagi, disamping untuk memperoleh Ridha Allah, pengendalian diri selama sebulan ini lebih banyak berkenaan dengan orang lain dan dengan bagaimana kita berhubungan dengan mereka. Kekhusyukan membutuhkan momen-momen tertentu untuk melakukan refleksi dan ibadah dengan tenang, tapi Ramadhan bukan semata-mata untuk itu; ramadhan adalah tentang menguji keimanan seseorang di dunia nyata, di mana selalu ada peperangan antara keadilan dan ketidakadilan.


Bukan kesempurnaan, tapi peningkatan


“Harga hari raya” bagi orang-orang yang tidak mampu, merupakan bagian ramadhan yang menarik. Meskipun untuk waktu yang lama kita sempat percaya, bahwa sebab utama mengapa banyak orang meninggal akibat kekurangan makan, adalah karena ada beberapa orang yang terlalu banyak makan. Karena itu, kita juga harus merenungkan dari mana datangnya kedermawanan dan kebaikan.


Seringkali semua ini mengimplikasikan bahwa orang-orang miskin akan selalu ada. Bahwa kita membutuhkan mereka untuk menyucikan diri kita sendiri. Sehubungan dengan hal ini, ada fakta lain yang juga amat meresahkan. Banyak ulama, dan tentunya orang-orang muslim yang punya kesadaran social, sering mengatakan bahwa salah satu alasan kita berpuasa adalah untuk berbuat kebaikan kepada orang miskin dan orang yang kelaparan. Bukankah itu berarti kita beranggapan bahwa orang Muslim itu kaya atau setidaknya berkecukupan? Siapa yang membangun wacana bahwa yang kaya adalah subyek agama, yang miskin adalah obyeknya dan kita meski tanpa sadar beranggapan bahwa mereka tidak berpuasa atau tidak harus berpuasa?
Kini kembali lagi ke pertanyaan awal. Apa yang membuat bulan Ramadhan menjadi begitu penting? Mengapa tidak seperti ini saja setiap bulan?. Benar bahwa kita belum mampu mempertahankan satu level kesadaran akan Allah selama setahun penuh. Ini juga tentang betapa sulitnya mempertahankan ketinggian spiritual.


Seandainya kita mampu, Ramadhan tidak akan lagi menjadi Ramadhan. Pun, jika musim panas tidak diimbangi dengan musim dingin, ia hanya akan dianggap sebagai “suatu waktu”, bukan sebagai “musim panas”. Maka jangan pernah bertanya mengapa tidak musim panas saja selamanya. Lebih baik bertanya “apa yang harus dilakukan pada musim panas agar kita bisa menikmatinya dan tetap menyiapkan datangnya musim dingin”.


Diumpamakan perahu-perahu yang aman di pelabuhan, dan ini membuat kita ingin terus berada di sana, tetapi bukan itu alasannya mengapa perahu dibuat. Bulan puasa adalah masa di mana kita kembali ke dermaga untuk membenahi jiwa yang rusak dan mempersiapkan perjalanan berikutnya untuk menjadi lebih dekat dengan Allah dengan ke-diri-an kita yang lebih mulia, dengan alam dan dengan sesama manusia.


Tetapi baru beberapa hari setelah Ramadhan berakhir, ternyata jalan tidak semulus saat perahu-perahu berada di dermaga. Bahkan bagi sejumlah orang, berdiam diri di dermaga itu sendiri menjadi sedikit membosankan di tengah jalan. Kita tidak lagi pergi untuk shalat tarawih. Intensitas ritual kita terkesan hancur semuanya disebabkan beratnya persiapan menghadapi perayaan Idul Fitri, hari kemenangan.


Lalu apa artinya awalan yang kita buat kalau kita tidak mempertahankannya. Buat apa kita berpuasa kalau kita tidak shalat lima kali dalam sehari. Kewajiban kita adalah untuk memastikan bahwa pada pelabuhan berikutnya, kondisi kapal kita lebih baik dari sebelumnya. Artinya bahwa bulan ramadhan berikutnya kita lebih baik dari sebelumnya.


Fakta bahwa kita tidak akan atau tidak mampu mengerjakan segala hal, bukanlah satu alasan yang kuat untuk menolak melakukan suatu hal. Karena bukan kesempurnaan yang ingin kita raih, akan tetapi peningkatan.

Perempuan dan Wajah Kusam Pendidikan Kita

Oleh: Alimah (6/4/07)


“Kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di mana-mana adalah petunjuk bahwa kekerasan ada di mana-mana dan setiap orang bisa menjadi korban, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak,”


Kalimat tersebut dikatakan Dr. Yakin Ertürk saat mendapat mandat PBB untuk mengunjungi Indonesia atas undangan Komnas Perempuan tahun 2004 lampau. Ertürk menambahkan, bahwa perjuangan menolak kekerasan terhadap perempuan bukan "pertempuran" antara perempuan dan laki-laki, bahkan ia juga mengajak laki-laki dan perempuan bersama berjuang menghapus kekerasan pada perempuan. Kekhawatiran Ertürk sudah menjadi rahasia umum, bahwasannya kekerasan, apapun bentuknya, kapan dan dimanapun terjadinya, siapapun pelakunya, sudah seharusnya menjadi perhatian yang serius suatu negara.


Konflik bersenjata, kemiskinan, kelaparan, HIV/AIDS, perdagangan manusia, fundamentalisme, bencana alam, dan lain-lain, adalah gambaran muram situasi perempuan. Berbagai potret kekerasan terhadap perempuan selama ini telah memperlihatkan kepada kita bahwa kekerasan terhadap perempuan sudah begitu membudaya dalam masyarakat, dan karenanya untuk sebagian, sudah diterima sebagai sesuatu yang given atau taken for granted. Kekerasan terhadap perempuan juga bukan semata dalam bentuknya yang fisik, melainkan juga pada bentuk-bentuk kekerasan yang tidak mudah untuk diidentifikasi. Misalnya, kekerasan psikis, kekerasan spiritual dengan korban yang bukan hanya tertekan jasmaninya, tapi juga rohaninya.


Demikianlah tradisi, ia mengakar dan mengajar masyarakat tentang berbagai hal, termasuk bagaimana seharusnya menjadi perempuan atau lelaki. Mitos-mitos kecantikan dan seksualitas sebagian juga lahir lewat tradisi, dan sebagian dari kita sendiri tanpa sadar masih memelihara dan membiarkannya turun kepada generasi anak-anak kita. Hal tersebut juga diperburuk oleh globalisasi kapitalisme dan program penyesuaian struktural (SAP), sehingga keadaan perempuan saat ini tidak lebih baik dibandingkan 30 tahun lalu.


Kini, situasi hak asasi perempuan mencatat beberapa perubahan ke arah keadaan yang lebih memberi harapan walaupun persoalan kekerasan dan diskriminasi masih jauh lebih banyak lagi yang menunggu diselesaikan. Seperti realitas yang digambarkan harian KOMPAS, dua organisasi nonpemerintah, Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Jakarta dan Mitra Perempuan, melaporkan catatan situasi perempuan tahun 2005 yang memperlihatkan perbaikan keadaan perempuan, dan pada saat yang sama masih memprihatinkan. Kedua organisasi tersebut mencatat naiknya jumlah perempuan yang melaporkan kekerasan yang mereka alami. Mitra Perempuan mencatat sepanjang tahun lalu jumlah perempuan yang mengadukan kasusnya ke lembaga ini di Jakarta, Tangerang, dan Bogor sebanyak 455 kasus, naik sebanyak 38,3 persen dibandingkan dengan tahun 2004. Demikian pula jumlah pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan kepada LBH APIK meningkat dari 817 kasus pada tahun 2004 menjadi 1.046 kasus tahun 20005.


Kebanyakan kasus yang masuk adalah tentang kekerasan dalam rumah tangga. Meskipun jumlah korban yang melapor meningkat, tidak semua korban bersedia menyelesaikan kasusnya. Kasus LBH APIK memperlihatkan, dari seluruh kasus yang masuk sebanyak 314 kasus adalah kekerasan dalam rumah tangga. Namun, hanya 19 kasus di antaranya yang dilaporkan ke kepolisian dan dari jumlah itu hanya delapan kasus yang diproses dengan menggunakan pasal-pasal dalam UU PKDRT. Dari kedelapan kasus tersebut, enam adalah kasus kekerasan fisik, satu kasus kekerasan ekonomi, dan satu kekerasan psikis. Hubungan pelaku dengan korban adalah suami pada istri (enam kasus), orangtua pada anak (satu kasus), dan majikan dengan pekerja rumah tangga (satu kasus).


Masih Banyak Persoalan, tetapi Ada Perbaikan Situasi


Nunuk Murniati, dalam Getar Gender (Perempuan Indonesia Dalam Perspektif Sosial, Politik, Ekonomi, Hukum, Dan HAM), mengatakan bahwa kekerasan adalah perilaku atau perbuatan yang terjadi dalam relasi antarmanusia, baik individu maupun kelompok, yang dirasa oleh salah-satu pihak sebagai satu situasi yang membebani, membuat berat, tidak menyenangkan dan tidak bebas. Situasi yang disebabkan oleh tindak kekerasan ini membuat pihak lain sakit, baik secara fisik, psikis, maupun rohani. Sehingga individu atau kelompok yang sakit ini sulit untuk bebas dan merdeka. Namun situasi sakit atau dalam belenggu itu, tidak akan dirasa oleh korban apabila situasi itu sudah merupakan satu bentuk kebiasaan. Lebih-lebih sudah dikemas menjadi ‘sebuah wacana’ atau mitos yang ‘dikunci mati’. Kekerasan juga merupakan tindakan yang terjadi dalam relasi antar manusia, sehingga untuk mengidentifikasi pelaku dan korban juga harus dilihat posisi relasi.


Kekerasan dalam rumah tangga sudah merupakan perbuatan yang perlu dikriminalisasikan, karena secara substansi telah melanggar hak-hak dasar atau fundamental yang harus dipenuhi negara seperti tercantum dalam pasal 28 amandemen UUD 1945, Undang-undang no. 7/1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againsts Women), dan Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), sejauh ini terbukti tidak mampu memberi perlindungan bagi korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Karena kedua aturan tersebut masih sangat umum, tidak mempertimbangkan kesulitan-kesulitan korban untuk mengakses perlindungan hukum, terutama karena jenis kelaminnya.


Dalam konteks budaya patriarkhi, para perempuan korban KDRT menghadapi berlapis-lapis hambatan untuk mengakses hukum, seperti tidak mudah melaporkan kasusnya karena berarti membuka aib keluarga. Ragu melaporkan karena bisa jadi ia yang dipersalahkan karena kurang mampu mengurus suami/keluarga, karena kata orang ‘tidak ada asap kalau tidak ada api’. Takut melaporkan karena bisa memperparah kekerasan yang dialami. Suami semakin gelap mata kalau mengetahui istrinya berani melaporkan dirinya, yang berarti mencemarkan status sosialnya sebagai kepala keluarga. Khawatir kalau melapor, ia akan dicerai dan menjadi janda. Bagaimana ia kelak dan bagaimana anak-anak? Berani melapor ke polisi tapi ternyata respon aparat tidak serius karena menganggapnya sebagai masalah privat. Berani melapor dan ada bukti kuat, tetapi ancamannya pidana penjara. Berarti suami akan dikurung. Bagaimana nafkah keluarga? Sekolah anak-anak? Siapa yang akan menjamin biayanya? Sebab, selama ini baik sistem sosial dan hukum telah membuat ia (istri) tergantung secara ekonomi terhadap sang kepala rumah tangga.


Realitas perempuan tersebut menggambarkan kesulitan yang dialami perempuan ketika menempuh jalur hukum. Selain itu, ada biaya yang harus dikeluarkan untuk mondar- mandir ke pengadilan. Di luar persoalan kekerasan di dalam rumah tangga, perempuan yang dilacurkan masih dianggap sebagai pelaku kriminal dan bukannya korban ketidakmampuan negara memberi lapangan kerja yang memadai untuk mengatasi kemiskinan. Pengkriminalan terhadap mereka dapat dilihat dari berbagai penertiban oleh aparat Tramtib yang mengejar-ngejar pekerja seks seperti mengejar pelaku kriminal. Padahal, di antara mereka ada yang merupakan korban perdagangan orang dan karena ketidakmampuan mencari lapangan kerja lain yang memberi penghasilan layak.


Persoalan lain menyangkut tenaga kerja perempuan yang mengalami pemutusan hubungan kerja setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak bulan November 2005. Hampir 90 persen buruh di pabrik Garmen adalah perempuan, sehingga kebijakan pemerintah tersebut juga menyengsarakan perempuan. Apabila dilihat satu per satu, masih terjadi kasus buruh perempuan yang haknya tidak dipenuhi, yaitu upah di bawah upah minimum, dilarang bergabung dengan serikat buruh, kamar mandi tidak layak, tidak dipenuhi kesehatan dan keselamatan kerja, dan tidak diakomodasinya hak atas kesehatan reproduksi. Salah satu kasus menyangkut seorang buruh yang dipotong gajinya saat hamil dengan alasan kehamilannya mengurangi produktivitasnya.


Pekerja rumah tangga adalah kelompok lain yang rentan terhadap kekerasan, baik fisik, ekonomi, psikis, maupun seksual. Banyak dari mereka tidak berani mengungkap kekerasan yang dialaminya karena mereka membutuhkan upah yang diterimanya untuk menghidupi keluarga di kampung. Dari sisi Undang-undang (UU), sampai sekarang belum juga diselesaikan penyusunan UU Anti perdagangan orang. Amandemen UU Kesehatan yang isinya antara lain; memberikan hak kepada perempuan atas kesehatan reproduksinya, dan melindungi perempuan dari aborsi tidak aman, selama ini terjadi meskipun secara hukum dilarang. Demikian juga, Undang-undang Perlindungan Saksi, UU Revisi KUHP, dan amandemen UU Kewarganegaraan yang isinya mendiskriminasi perempuan, belum juga dilakukan.


Deskripsi keadaan perangkat perundang-undangan diatas, tak lepas dari keterpurukan dimensi kenegaraan yang lainnya. Dunia pendidikan nasional, sebagai salah satu perangkat kebangkitan bangsa, secara komprehensif belum mendukung. Padahal, pendidikan merupakan proses kemanusiaan menuju terbentuknya manusia bernilai secara kemanusiaan, serta dianggap mampu memegang peranan kuat untuk menyelamatkan generasi bangsa, seakan jauh dari akar kultur pendidikan itu sendiri. Implikasinya, tingkat pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan masih tinggi. Sistem dan kurikulum pendidikan Indonesia yang meniscayakan output-nya berprofesi sebagai buruh, pelayan dan pembantu rumah tangga, ternyata menjadi satu kelemahan yang nayata. Penididikan seolah menjadi media yang mudah untuk mengeksploitasi perempuan tanpa memedulikan hak mereka sebagai manusia laiknya laki-laki. Padahal fakta menunjukkan, buruh pabrik di negeri ini hampir 90 persennya adalah perempuan.


Keterpurukan pendidikan Indonesia secara fenomenal memang tampak di depan mata. Polarisasi standar keberhasilan dan kriteria pekerjaan ideal terlatak pada tingkat lulusan pendidikan. Imbasnya, angka pengangguran memuncak, anak jalanan dan kaum miskin semakin meningkat. Tentunya, upaya pembenahannya adalah membuat infrastruktural dan suprastruktural pendidikan tertata secara terencana dan terpadu. Termasuk political will pemerintah dalam bentuk subsidi biaya pendidikan yang murah bahkan gratis. Tapai yang tampak sampai hari ini, kurikulum pendidikan kita –seperti halnya ilmu penngetahuan sejarah—, masih menempatkan perempuan pada the second position dan inferior dibanding laki-laki.


Media Massa dan Pembelaan Perempuan


Pandangan yang menganggap semua masalah kejahatan harus diatur dalam suatu kodifikasi hukum seperti KUHP atau KUHAP adalah pandangan yang sempit dan ketinggalan zaman serta tidak sesuai dengan tuntutan yang ada. Karena pada era modern dimana pembagian kerja semakin kompleks, kebutuhan akan adanya peraturan-peraturan khusus yang bisa menjangkau permasalahan di lapangan semakin mendesak untuk segera diakomodir. Masalah kekerasan dalam rumah tangga perlu diatur secara khusus dalam sebuah UU, mengingat konteks permasalahannya yang juga spesifik.


Sistem hukum di Indonesia masih belum sensitif dalam memandang persoalan perempuan. Sebaliknya, dalam banyak hal sistem malah memfasilitasi embrio-embrio kekerasan terhadap perempuan, seperti misalnya yang terjadi pada undang-undang perkawinan. Atas dasar itu, perempuan korban kekerasan selalu dihadapkan pada posisi yang sulit atau bahkan justru sebagai pihak yang disalahkan. Sebagai contoh, misalnya, pada kasus perkosaan, perempuan yang menjadi korban pemerkosaan akan selalu menghadapi kondisi dilematis.


Bersamaan dengan penyadaran akan hak-hak perempuan, diharapkan muncul inisiatif untuk memperjuangkan terpenuhinya hak-hak tersebut. Termasuk melakukan penggugatan atas larangan memperoleh akses-akses ekonomi dan pengembangan potensi diri yang terjadi di lingkup rumah tangga atau domestik. Tetapi tentu saja upaya ini tidak bisa berjalan sendiri secara sempurna tanpa upaya pendukung lain. Maka peran media massa menjadi penting di sini.


Media massa secara terus-menerus membangun wacana mengenai penguatan hak-hak perempuan dengan melakukan blow up terhadap isu kekerasan berbasis gender. Blow up di tingkat media ini akan menjadi jembatan yang efektif untuk memunculkan dan membangun solidaritas di kalangan perempuan itu sendiri. Sebab, pada kenyataannya, media massa sering dituding sebagai perangkat yang mengeksploitir perempuan secara fisik maupun psikis. Di mata media massa, se-idealis apapun, dunia perempuan masih menjadi andalan pasar, misalnya untuk menaikkan oplah dan tetap survive.


Bersamaan dengan itu, upaya menumbuhkan kesadaran Hak Asasi Perempuan (HAP) di tingkat akar rumput harus tetap dilakukan seiring penguatan-penguatan kelembagaan kaum perempuan. Ini berarti mengajak kaum perempuan untuk meningkatkan posisi tawar dengan cara membentuk dan memperluas jaringan atau organisasi perempuan. Bagaimanapun juga, organisasi adalah cara yang efektif dalam memperjuangkan kepentingan. Dalam konteks ini, makna solidaritas yang terbentuk lewat blow up media massa harus dapat menghilangkan sekat-sekat yang menghalangi penguatan kelembagaan organisasi perempuan. Bukan rahasia lagi apabila diantara kaum pergerakan perempuan, di antara LSM-LSM yang mengaku mengadvokasi persoalan perempuan justru terjebak dalam dunianya sendiri-sendiri, saling mengklaim bahwa mereka yang paling benar. Apabila kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin solidaritas yang sedang digalang berubah menjadi solidaritas semu (pseudo solidarity) yang tidak terbangun di atas pemahaman yang sama menyangkut visi politik keperempuanan.


Totalitas organisasi sosial, ekonomi, dan politik, untuk memahami subordinasi perempuan dalam masyarakat juga perlu ditingkatkan. Dalam subordinasi ini, tidak bisa melihat perempuan saja, tetapi juga memperhatikan perempuan dalam kostruksi sosial yang memberi peran tertentu kepada laki-laki dan perempuan. Laki-laki yang menaruh perhatian dan memiliki keprihatinan pada keadilan dan nasib perempuan, dapat turut serta dalam memperjuangkan kepentingan perempuan.


Sejarah mencatat bahwa masyarakat manapun sangat mendambakan kehidupan yang adil dan damai. Namun kenyataannya, peperangan dan penindasan serta ketidakadilan makin merajalela. Penjajahan dan penindasan dikemas dengan rapi dalam bentuk ideologi di bawah sadar, sehingga menjadi semu seolah-olah bukan lagi penjajahan dan penindasan.


Alhasil, segala upaya untuk perbaikan problem keperempuanan di Indonesia, tanpa melihat konstelasi global antara dunia pendidikan, perangkat hukum dan peran media massa, akan mengalami jalan buntu. Artinya, penyetaraan posisi perempuan dan laki-laki pada tataran pendidikan, hukum, dan hak-haknya, harus sama tanpa diskriminatif.