Jumat, 17 Oktober 2008
Surat
Kartini tak dikenal. Sebuah lagu yang memujanya dan dinyanyikan tiap 21 April menyebutkan betapa ”harum namanya”. Ia memang telah jadi aikon sejak dasawarsa awal abad ke-20, sebelum Bung Karno dikenal di pelbagai mimbar. Tapi Kartini lebih merupakan ”pokok” ketimbang ”tokoh”.
Ia sendiri memilih untuk berlindung. ”…aku ingin [menulis di surat kabar] tapi tidak dengan namaku sendiri. Aku ingin tetap tidak dikenal… di Hindia ini”—begitulah tulisnya dalam surat bertanggal 14 Maret 1902.
Ia seakan-akan memakai cadar. Ayahnya, sang Bupati Jepara yang mencintainya dan dicintainya itu, menjaga agar hal itu seterusnya demikian. Bapak itu gagal, sebab akhirnya Kartini mau tak mau dikenal. Tapi itu tak menyebabkan ia terjangkau orang ramai. Dengan catatan: ”cadar” sebetulnya bukan kiasan yang tepat di sini. Lebih baik dikatakan, Kartini bertatarias.
Ia tak sepenuhnya tak terlihat. Ia memperkenalkan diri dan mengisahkan harapan dan kemurungannya kepada sejumlah orang lewat surat-menyurat. Praktis hanya dengan korespondensi itu kita tegakkan Kartini sebagai tokoh. Atau lebih tepat sebagai pokok. Sebab Kartini tetap mengelak untuk disimak siapa sebenarnya dia.
Danilyn Rutherford pernah menelaah hal ini dalam sebuah esai, ”Unpacking a National Heroine: Two Kartinis and Their People”, dalam jurnal Indonesia yang terbit di Cornell University; ia membandingkan buku S. Soeroto, penulis Kartini, Sebuah Biografi, dan Pramoedya Ananta Toer, yang menulis Panggil Aku Kartini Saja. Kesimpulannya: semua tulisan tentang ”pendekar kaumnya” ini hanya tafsir, dan tiap tafsir merupakan hasil ”penetrasi politik tertentu ke dalam teks tertentu”.
Yang tak dibahas adalah bahwa jarak antara ”Kartini-yang-sebenarnya” dan ”Kartini-dalam-tafsir” justru terjadi karena medium yang dipilih Kartini sendiri.
Seandainya ia menulis catatan harian, dan kita bisa menemukannya….
Di sebuah kesempatan lain pernah saya katakan catatan harian adalah curahan konfesional tanpa pastor. Dalam medium ini, sang penulis masuk dan diam di sebuah ruang komunikasi yang paling intim, tapi juga berada dalam ruang pikiran dan imajinasi yang hampir tanpa batas. Tak ada orang lain. Atau orang lain itu (seperti dalam catatan harian Anne Frank) diciptakannya sendiri dan berada di bawah ampuannya: teman bicara imajiner itu tak bisa menjawab.
Kecuali bila seseorang sadar bahwa catatan hariannya suatu ketika akan dibaca orang, ia praktis bebas dari tatapan orang lain. Ia tak berada di pentas.
Ia akan berada di pentas menghadapi orang banyak jika ia jadi sosok media massa. Tapi ada paradoks dalam teknologi Guttenberg dan kapitalisme-cetak: media massa itu menjangkau sebuah audiens yang besar, ia bisa luas didengar, tapi ia juga membuat seseorang rentan. Sang penulis bisa merasa dalam kekuasaan. Tapi ia juga dalam sorotan yang tak bisa dikendalikannya.
Sebab ia tak mengenal audiensnya dengan akrab. Ia hanya menduga-duga, baik tingkat informasinya maupun potensinya menerima informasi baru, baik nilai-nilainya maupun kecemasannya.
Ketidakpastian inilah agaknya yang menyebabkan Kartini gentar dan mengelak. Ia memilih berkorespondensi antarteman.
Dalam korespondensi, ada seorang lain yang nyata, yang bisa bertanya dan bereaksi. Orang lain itu juga dapat diidentifikasikan, dan dari sini lebih mungkin terjalin keakraban.
Tapi apa boleh buat, keakraban itu mengandung ambivalensi.
Ini tampak dalam surat-menyurat Kartini dengan Stel-la Zeehandelaar. Perempuan muda dari Belanda ini ”sahabat pena”-nya. Persahabatan itu terjalin, tapi di antara kedua penulis surat terbentang jarak ribuan kilometer. Keduanya hanya dihubungkan dengan sebuah instrumen kecil untuk menyampaikan kata-kata: ”pena”.
Itu sebabnya Stella—yang surat-suratnya tak pernah diketemukan—tampil sebagaimana Kartini merautnya dengan pena itu. Juga sebaliknya: kepada Stella, Kartini merepresentasikan diri terbatas sebagai respons terhadap surat sahabatnya. Ia bernegosiasi, dengan menggunakan bahasa yang ia pelajari, untuk menyesuaikan dan mengubah persepsi, untuk merumuskan identitas atau memodulasi identitas itu, untuk memilih apa yang dikatakannya dan apa yang tak dikatakannya.
Itu sebabnya, dalam surat-surat Kartini, ungkapan ekspresif silih berganti dengan kalimat yang menjelas-jelaskan. Kehangatan dan keakraban silih berganti dengan rasa berjarak. Stella, yang disebutnya ”pasangan jiwa”, tetap seorang asing.
Dengan kata lain, ke arah Stella, Kartini memakai rias. ”Panggil aku Kartini saja,” tulisnya—sebuah kalimat yang mungkin lebih merupakan cara Kartini untuk memudahkan Stella memahami dan menerima dirinya, seraya memudahkan dirinya sendiri dalam memilih identitas. Apa arti ”Raden Ajeng” bagi seorang Belanda yang pengertiannya tentang aristokrasi berasal dari sejarah Eropa? Apa arti gelar itu bagi seorang gadis Jawa yang tahu dirinya tak 100% berdarah ningrat?
Kepada Stella Kartini mengatakan, ”Ibuku masih sangat terhubung dengan Kerajaan Madura.” Tapi Kartini tahu, dan Stella tidak, bahwa ”Ibu” di sini bukanlah ibunya sendiri, melainkan ibu tirinya, permaisuri Bupati Jepara. Status ibu kandung Kartini, seorang dari kelas bawah, hanyalah selir.
Tapi haruskah semua jelas tentang sebuah aikon? Bahkan sebagai aikon, orang dapat membacanya secara bertentangan. Dalam lagu karya W.R. Supratman itu ia disebut ”pendekar bangsa, pendekar kaumnya”, tapi yang bagi saya menyentuh dalam sosok Kartini justru dirinya yang terbelah: ia menjerit dan sebab itu didengar, ia korban dan sebab itu jadi lambang. Kita tahu akhirnya ia gagal: seorang penentang poligami yang mati muda sebagai seorang madu. Tapi kegagalan itulah yang menunjukkan betapa tak adilnya sistem tempat ia hidup—dan Indonesia pun berteriak, ”Jangan, jangan lagi!”
~Majalah Tempo Edisi. 09/XXXIIIIII/23 - 29 April 2007~
Rabu, 15 Oktober 2008
Bhutto
Ledakan bom itu menewaskan sekitar 30 orang. Kelimun orang itu histeris. “Semoga Tuhan menjaga keselamatan Pakistan”. Itu kata-kata terakhir seorang pemimpin lain, di tahun 1951. Dia Liaquat Ali Khan, perdana menteri pertama. Ia juga tewas, ditembak, setelah berpidato di taman yang sama – sebuah alun-alun yang kemudian dikekalkan dengan namanya. Jika kata-kata terakhirnya sebuah doa, maka doa itu tak dikabulkan Tuhan agaknya. Di pagi hari 4 April 1979, tak jauh dari taman itu, di penjara Rawalpindi, Zulfikar Ali Bhutto, ayah Benazir, bekas presiden dan perdana menteri, digantung mati oleh pemerintahan militer Jenderal Zia ul-Haq, dengan tuduhan ia telah membunuh seorang lawan politiknya … Sejarah apakah ini, yang dicatat di Rawalpindi? Benazir dibunuh: keluarga Bhutto adalah tragedi Pakistan. Tiga dari empat dari anak Zulfikar dengan isterinya, Nusrat, tewas. Di tahun 1985, Shanawaz, si putra bungsu, ditemukan mati di Riviera Prancis dalam umur 28. Keluarganya mengatakan ia diracun. Di tahun 1996, adik Benazir yang juga jadi musuh politiknya, Murtaza, mati dalam tembak menembak dengan polisi Pakistan. Fatima Bhutto, anaknya yang kini jadi penyair dan kolumnis, tak pernah memaafkan Benazir, sang bibi. Walhasil, riwayat Bhutto adalah bagian dari sejarah kekerasan politik, sejarah kegagalan mengelola konflik, sejarah kekecewaan. Pakistan berdiri sebagai bagian dari India yang memisahkan diri, hingga kedua republik itu lahir di tahun yang sama, 1947. Tapi sementara India kini mulai bangkit sebagai kekuatan ekonomi, Pakistan – dalam kata-kata Penulis Tariq Ali di kotan The Guardian pekan lalu – hanya sebuah “conflagration of despair”, rasaputus asa yang menjalar bagaikan gelombang api. Tentu, India juga mengandung sejarah kekerasan dan pembunuhan politik. Tapi sampai hari ini demokrasi di India bisa bertahan, (meskipun terkadang dengan ledakan yang menakutkan seperti bengisnya fundamentalisme Hindu), seraya membuktikan dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi sampai 9% setahun. Pertumbuhan ekonomi Pakistan sendiri tak buruk amat, sampai 7%. Aktifitas politik dan pers di negeri itu lebih bebas ketimbang di Malaysia atau Singapura yang tenang bak akuarium. Tapi lembaga yang menopang struktur politiknya dijalari ketak-pastian. Tiap rezim yang dijaga bedil tentara adalah sebuah rezim yang diam-diam meragukan legitimasinya sendiri. Maka berkecamuklah politik paranoia. Pintu dan saluran dijaga ketat. Dalam keadaan bumpet, desakan mudah jadi eksplosi. Kenapa? Karena “Islam”? Saya kira bukan. “Islam” adalah sebuah nama yang maknanya dirumuskan dengan beberapa patokan yang tetap. Yang sering diabaikan ialah bahwa patokan itu – katakanlah hukum syari’at — tak selamanya mampu mewakili “Islam” yang dianggit, yang diimajinasikan secara sosial dalam sejarah – imajinasi yang berlapis, beragam dan mengalir terus seperti, untuk memakai istilah Castoriadis, “magma.” Di tahun 1930, ketika Mohammad Iqbal, penyair dan filosof itu, merumuskan argumennya agar minoritas Muslim di India punya tanahairnya sendiri, ia tampak berpikir bahwa pengertian tentang identitas “Islam” adalah realitas yang sudah siap pakai seperti briket bata. Iqbal menganggap gampang dan jelas agenda mendirikan negeri kaum Muslimin tersendiri. Ia tak melihat bahwa tiap wacana tentang identitas sosial selalu mengandung konstruksi atas arus yang “magmatik”. Konstruksi itu ditentukan oleh sebuah “pusat.” “Pusat” itu adalah sang pemenang dalam pergulatan mencapai posisi hegemonik. Saya katakan “pergulatan”: ada gerak politik di dalam tiap perumusan identitas sosial. Itulah yang tak dilihat Iqbal. Ketika Pakistan dimaklumkan kelahirannya bersama India, dengan segera tampak jarak antara niat luhur seorang filosof dan politik paranoia yang mencemaskan. Politik punya sejarah yang tak hanya terdiri dari membangun imajinasi bersama dan memberi makna bersama. Machiaveli mengingatkan hal ini sebenarnya: ia berbicara tentang kekuasaan bukan sebagaimana “seharusnya,” melainkan sebagaimana “adanya.” Politik sebagaimana “adanya” adalah yang kemudian dirumuskan dengan brutal oleh Carl Schmitt sebagai das Politische: di dasarnya adalah antagonisme. Lahirnya Pakistan dan India memang bukan kisah yang suci murni. Tapi bila India lahir tanpa memakai label agama, dan sebab itu mengakui dirinya tak sempurna – hingga lebih siap menghadapi apa yang busuk, brutal, dan bingung dalam tubuhnya – dalam kasus Pakistan label “Islam” telah menutupi apa yang cacat dan yang celaka – juga menyembunyikan yang retak. Bertahun-tahun orang hidup dengan ideologi ”keutuhan” itu. Akhirnya adalah kekerasan – atau ledakan amarah yang mencoba menolak apa yang tak bisa ditolak, bahwa “Islam” dan “Pakistan”, (ya, bahkan “Bhutto”), adalah nama tentang sesuatu yang tak pernah utuh. Sumber: www.caping.wordpress.com
“Semoga Tuhan menjaga keselamatan Pakistan” – dan berkali-kali pembunuhan terjadi di Rawalpindi.
~Majalah Tempo Edisi. 45/XXXVI/31 Desember - 06 Januari 2008~
Selasa, 14 Oktober 2008
Zilot
WOLE Soyinka tahu apa artinya diinjak dan bagaimana rasanya ditindas. Pemenang Hadiah Nobel untuk Sastra tahun 1986 ini sekarang berusia 74. Ketika ia 31 tahun, orang
Dari riwayat itu kita tahu, Soyinka tak akan berhenti menentang ”sepatu lars yang menindas”. Tapi kemudian sesuatu yang lebih opresif datang: fundamentalisme agama, terutama di tanah airnya. Bagi Soyinka, kini jadi tugasnya untuk ”melawan mereka yang memilih bergabung dengan pihak kematian”. Artinya ”mereka yang mengatakan telah menerima titah Tuhan entah di mana dan berkata bahwa mereka wajib membakar dunia agar mereka mencapai keselamatan”. ”Pihak kematian” ini tak hanya di satu sisi. Soyinka melihat musuh itu ”di lorong-lorong sempit Irak ataupun di Gedung Putih.”
Karenanya, tugas itu tak mudah.
”Fundamentalisme agama lebih berbahaya… sebab ia tak berbentuk, dan bergerak ke banyak arah,” katanya dalam satu wawancara bertanggal Januari 2003. ”Melawan kediktatoran militer, kita bisa memfokuskan sasaran. Kita dapat melawannya langsung. Kediktatoran itu segerombolan orang yang didera hasrat kekuasaan. [Tapi] fundamentalisme memperoleh pengikut di tempat yang paling tak terduga. Ia menyatakan diri dalam bentuk yang acak dan sangat berbahaya.”
Tanah airnya mungkin salah satu saksi yang boncel-boncel dan berdarah. Sejak 1999, di dua belas negara bagian Nigeria Utara, penduduk yang muslim memilih untuk menerapkan syariah Islam. Tapi kian lama kian tampak, ada yang tak beres dengan ketetapan itu, terutama di republik yang berpenduduk 147 juta dan hanya 50 persennya muslim, sementara 40 persennya Kristen. Sementara korupsi meluas, 70 persen penduduk di bawah garis kemiskinan. Ketimpangan sosial tajam (indeks Gini hampir 44, bandingkan dengan
Bahkan satu kejadian menggambarkan bagaimana hukum syariah jadi soal yang gawat: kasus Aminah Lawal Kurami.
Maret 2002, perempuan berumur 27 ini dijatuhi hukuman mati dengan dirajam, karena mahkamah syariah di Kota Funtua menganggapnya telah berzina. Ia baru bercerai, tapi melahirkan. Perempuan miskin ini divonis tanpa didampingi pembela. Hanya satu hakim yang menjatuhkan hukuman. Aminah buta huruf, tak tahu undang-undang yang dianggap tak boleh dilanggarnya.
Tentu saja para hakim syariah tak menganggap hal itu bisa meringankan hukumannya. Harian The Guardian awal Oktober 2003 mengutip pernyataan Dahaltu Abubakar dari mahkamah banding di Katsina: ”Tak tahu undang-undang tak bisa jadi pembelaan.” Ini bukan hukum bikinan manusia, katanya. ”Selama kamu muslim, hukum ini berlaku buat dirimu.”
Syukurlah, setelah kampanye yang gigih di seluruh dunia—bahkan The Oprah Winfrey Show ikut membelanya—Aminah tak jadi mati dirajam. Tapi kejadian itu menunjukkan bagaimana penerapan syariah Islam justru mengungkapkan perbenturan antara hukum dan keadilan, antara iman dan kemanusiaan.
Tapi apa artinya kemanusiaan, apa artinya hidup, bagi yang disebut Soyinka sebagai ”pihak kematian”, the party of death? Sebab ”kematian” di sini tak hanya menyangkut disambutnya hukum rajam dan potong tangan, tapi juga menyangkut tafsir yang tak hidup lagi.
The party of death itu juga yang berkibar ketika pada tahun 2000 dan 2002 Nigeria, khususnya di Kota Kaduma, orang Kristen dan Islam baku bunuh. Dari
Maka tangan sang zilot terulur, kata sajak Soyinka pula, tapi bukan untuk membuai ranjang bayi yang damai. Tangan itu ”cakar kebencian”, mencengkeram dari ujung ke ujung, ”Membubuhkan luka, membunuh, itulah segalanya”.
Zilot—sebuah pengertian dari Injil yang kemudian menggambarkan sikap orang fanatik yang militan—dalam sajak Soyinka kata itu menunjuk mereka yang atas nama hukum agama yang murni mengancam spontanitas kegembiraan hidup di atas bumi, di bawah langit, di antara makhluk yang fana. Maka dari
Sumber: www.caping.wordpress.com
Tentang jiwa yang lain (4)
Menunggumu Hingga Entah:Liemdays
Aku masih setia menunggumu. Lagi-lagi menunggumu. Selalu menunggumu.
“Kenapa kita jadi begini?,” tanyaku dalam kepenatan.
Kali ini aku menunggumu di wartel depan kosku. Meski lama, aku sengaja bertahan tidak kembali lagi ke kos. Mungkin karena aku terlalu terbiasa menunggumu disana, sehingga aku lebih memilih duduk diam dan menebak-nebak bahwa kau akan tiba dalam hitungan detik.
Alasan lainnya, karena aku tiba-tiba mudah tersinggung dengan sindiran dan ledekan teman-teman kosku. Dan seperti biasa, di kepalaku semua itu lebih mirip ejekan. Ah, mungkin aku memang terlalu sensitif. Menunggu memang berbeda dengan menanti. Entah apa lagi yang akan kulakukan jika kumenantimu yang begitu lama seprtihalnya ku menunggumu.
Menunggumu siang ini merupakan menunggu yang keberpuluh kalinya. Bisa dibilang, kini ketidaksabaranku telah melunak. Menunggumu kini, spontan membuatku menerawang pertengkaran kita yang cukup hebat. Ya, setidaknya selama dua tahunan bersamamu, pertengkaran ini yang terus menerus membuatku takut kehilanganmu.
Ketika itu, muaranya tetap sama, yakni menunggumu yang begitu lamanya. Satu setengah jam. Bayangkan. Bagiku itu waktu yang begitu lamanya. Kenapa? Karena seperti biasa, ketika kita berjanji pergi bersama, saat itu pula, pada jam itu pula, aku sudah siap seratus persen untuk pergi. Bahkan satu jam sebelum kau datang menjemputku, aku sudah siap segalanya. Acara-acara yang bisa dibilang lebih penting pun, aku batalkan hanya karena kita sudah berencana ke suatu tempat ataupun momen khusus. Sayangnya, seperti biasa, setengah waktunya hanya kuhabiskan untuk menunggumu.
Saat itu, amarahku memang tak terbendung lagi. Karena bagiku, kau memang sangat keterlaluan. Kau telah membuatku menunggu sekitar dua jam-an.
“Maksudmu apa? Kau pikir aku bodoh? Menunggumu selama itu tanpa ada kabar apakah kau batal menjemputku atau tidak! Kau sengaja membuatku menunggumu bagai orang tolol?,” aku marah besar.
Keterlaluan memang. Kau tak memberiku kabar, baik lewat sms ataupun telfon langsung. Parahnya, Hp-mu tidak aktif ketika berkali-kali aku menghubungimu, yang ada hanya tulalit. Ya, biasanya ketika kau telah berjanji menjemputku, aku tak henti-hentinya menelfonmu. Setidaknya aku bisa memastikan, apakah kau batal menjemputku atau kau terlambat mejemputku.
“Puas? Sudah membuatku menjadi orang paling tolol?,” aku masih membara.
Seperti biasa, kau hanya diam. Biasanya aku terima diammu. Tapi malam itu, aku lelah. Lelah jika hanya diam dan diam. Aku lebih memilih mengeluarkan kejengkelanku saat itu juga, daripada harus diam dan menyimpan kekecewaanku berhari-hari lamanya. Tapi kau tetap diam. Aku makin marah. Aku terhina. Diammu seakan-akan tak menghargai pertanyaanku. Tanpa komentar apapun. Hingga tiba-tiba di pinggir jalan dekat pohon besar, kau menghentikan mesin motormu. Namun kau tetap diam. Aku makin membara. Aku memutuskan untuk pergi tanpa harus membonceng di motormu lagi.
Ahirnya kau buka mulut, kau mulai menjelaskan alasan keterlambatanmu menjemputku. Namun aku masih membara. Karena saat itu masalahnya bukan hanya keterlambatanmu, tapi juga diammu yang telah menyepelekan pertanyaanku. Seperti biasa kau meminta maaf. Aku tak terima. Hingga ahirnya kita gagal menghadiri sebuah acara.
Kini, aku masih menunggumu seperti biasa, di wartel depan Kosku. Sambil sesekali meredam emosi yang ingin secepatnya kukeluarkan seperti biasanya. Meski sebenarnya, aku tetap menerima dalihnmu. Ya, selalu ada dalih kenapa kau membuatku menunggumu, meski ahirnya aku akan benar-benar mengutuk diri atas segala ketololanku.
Karena pada ahirnya pun, kau selalu punya dalih kenapa lagi-lagi kau membuatku menunggumu. Ke-aku-anku bukanlah aku yang mudah menerima dan dibodohi, dikerdilkan, dibuat tergantung dan dibuat menurut. Bahkan ketika kau dan aku telah mampu menguasai satu sama lain, bukan berarti kau bebas mendominasiku. Ya, kau takkan pernah mampu mendominasi-ku.
Jika sudah menunggu, menunggu dan menunggumu. Jika sudah sering kau berdalih. Jika sudah ada keterikatan dan ketergantungan yang absurd, aku hanya bisa menghibur diri. Dengan sesekali menerka. Mungkin saja kau ketiduran ketika kumenunggumu. Mungkin juga, kau tidak enak diajak ngobrol teman lamamu. Mungkin motormu dipinjam temanmu sehingga kau tak bisa pergi secepatnya. Mungkin kau menyelesaikan satu masalah hingga kau melupakan janjimu atau sengaja lupa. Mungkin juga kau sakit?. Mungkin juga kau berubah pikiran untuk menengokku, tapi pulsamu habis hingga tak bisa menghubungiku.
Atau mungkin juga ada perempuan selainku yang membuatmu melupakan janjimu tuk pergi bersamaku. Namun aku tetap diam ditempat yang sama. Di Wartel depan kosku. Menunggumu. Ya, aku masih menunggumu.
“Hingga kini, kupegang janjimu. Tapi esok entah,” ujarku spontan dalam hati.
Kumenunggu dalihmu. Hingga aku emosi dengan diamku, dan kau emosi dengan dalihmu. Atau aku emosi dengan kata-kata tajamku, sedang kau emosi dengan diammu. Begitu seterusnya. Hingga aku lelah menunggumu dan sejuta dalihmu. Dan hingga kau lupa akan kita. Atau mungkin aku lelah akan kita.
Tentang jiwa yang lain (3)

Perempuan yang berpikir dengan pikirannya sendiri
: Liemdays
“Aku adalah perempuan, karena aku tak mau menerima, aku tak mau disakiti, aku juga tak mau dipaksa, dan aku bukan kau!”
Siapa sangka aku akan melangkahkan kaki di tempat yang tak ingin ku pijak lagi. Tapi memang tak ada lagi pilihan. Aku harus melangkah mengikuti kemauan hati. Aku juga harus mampu. Jika tak begini, dengan apa aku memuaskan inginku. Bukankah aku pernah bilang, aku perempuan yang ingin menciptakan duniaku sendiri. Aku memiliki keputusan atas diriku. Keputusanku untuk memilih melebur dan menghindar dari apapun dan siapapun. Keputusanku untuk tidak berkomitmen pada siapapun dan apapun. Jangan katakan aku lemah, hanya karena tak mampu mempertahankanmu. Mungkin kau tak pernah tahu aku sangat menikmati betapa gaibnya perasaan ini bagiku.
Bahkan hingga kini, setelah sekian lama kita saling meninggalkan satu sama lain. Hingga
terkesan sekali bahwa diantara kita saling berlomba siapa yang lebih cepat untuk meninggalkan siapa. Perih memang terasa. Demi kebahagiaan, siapapun dan apapun pasti akan mengalami hal serupa. Ternyata sebanding, antara kebahagiaan yang ingin kita raih, dengan kepedihan yang kita rasakan. Ini adalah bagian dari proses hidup, katamu ketika itu.Dulu dan kini, cintaku selalu mampu memaafkan segalanya. Harusnya aku mampu mengambil resiko menjadi diri yang tak lagi digerogoti rasa takut akan kau yang nyata-nyata meninggalkanku. Hingga aku lebih memililih ruang yang kurasa sunyi dan sesak, hingga aku tak tahan ingin lari darinya. Tapi aku tetap di sini, mencoba menguatkan diri tuk mendengarkan bagiamana kau akan membohongiku lagi. Mungkin kini aku lebih siap menerima resiko itu. Tak seperti beberapa tahun silam, ketika kau datang tiba-tiba setelah beberapa bulan sengaja menghilang dan tak memberiku kabar. Kau terlalu menikmati duniamu, dunia yang sampai kapanpun sulit kufahami. Mungkin karena aku tak berkeinginan memahaminya. Tapi aku menerimanya. Bersamamu, aku laiknya istri muda yang kau buat takut dan harus mengendus-endus setiap ingin menikmati waktuku bersamamu.
Ya. Di tengah kegalauanku tuk kembali mempercayaimu, tiba-tiba kau datang. Tapi saat itu kau tak sendiri, kau datang dengan keputusanmu tuk berkomitmen dengan perempuan yang mungkin lebih segalanya dariku. Spontan aku tertawa. Mungkin menertawakan diri yang kata mereka aku begitu tolol, dan menertawakan kisahku bersamamu yang begitu klise.
“Kau keterlaluan!” protesku. Setidaknya kata-kata itu mampu mewakili kekecewaanku padamu. “Bukankah ini yang kau inginkan? Kau selalu menciptakan kebenaran sendiri. Aku lelah berdebat denganmu. Itu satu hal yang menggangguku. Kalimat-kalimatmu yang tidak jelas. Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, katakan saja!” Kebenaran itu seperti pisau merobek harga diriku. “Ini berbeda! Kau berdusta di saat aku mencoba mempercayaimu lagi. Apa dia lebih segalanya dariku? Apakah lelaki selalu begitu? Selalu ingin memulai dan memutuskan?” Kau hanya diam.Artinya aku harus segera menghentikan pembicaraan. Kalau tidak, suasana bisa buruk, hingga berakhir di pertengkaran. Bagaimanapun bila menyentuh soal perasaan tentu sangat sensitif. Sangat egois.
“well! hal-hal yang kita pelajari dari orang yang kita pikir kita kenal. Sudahlah lupakan!.” aku mencoba bersikap bijak.
Aku tertawa hampir histeris. Mataku adalah mata perempuan yang terbakar penderitaan. Dan aku takkan membiarkan kau menerobosnya. Berfikir bahwa akhirnya kau, setelah bertahun-tahun telah membuatku gila. Aku menerima, sepertihalnya menerima kepura-puraanmu tentang pertemuan-pertemuan kita selama ini. Setelah ini, aku sadar, takkan ada lagi yang mampu memecahkan lamunanku. Aku adalah pihak yang terluka. Rasanya aku tak mampu lagi menolehmu.
Aku telah berkata terlalu banyak, berbuat terlalu banyak. Aku menyintaimu, tetapi mungkin aku telah menyiksamu tanpa pernah kusadari. Penyesalan bertumpuk-tumpuk mengusikku di setiap kesunyian malam. Kau, lelaki yang sudah membenciku selamanya, dan aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Aku jadi merasa takut akan datangnya musim yang tak pernah tak berganti. Mungkin aku memang pantas dibenci. Tuhan tahu itu, seperti yang tak pernah ku sadari, aku sudah cukup melukaimu. Sejak kuyakin kau takkan lagi menolehku, aku seakan di dunia lain, tapi ini nyata. Meski aku sulit tuk menyadari bahwa aku memang gagal mempertahankanmu. Aku yang tak pernah mau menetapkan diri bahwa kau tak pernah menginginkan keberadanku. Kini seperti melemparkan diri ke dinding batu. Dan aku sadar, ini harus dihentikan. Ku akui tidak ada yang akan mengubah hubunganku denganmu yang terasa makin dangkal. Sudah waktunya aku menjauh darimu untuk selamanya. Mencoba melawan emosiku terbukti tidak berhasil, dan setiap kali melihatmu, rasanya aku akan semakin sakit hati. Dan dengan keras kepala, aku harus menutup hatiku dengan aman dalam peti es. Kini, setelah bertahun-tahun menantimu, berharap, dan menderita, hanya agar bisa bersamamu sewaktu-waktu. Tapi kini aku memenuhi undanganmu tuk mendengarkan lagi kata-katamu. Aku sudah terlalu lama hidup dalam penantian. Aku harus mencari kehidupan untuk diriku sendiri tanpamu, betapapun hal itu akan menyakitiku. Dan sekali lagi, aku siap mengambil resiko. Tanpa harus merasa kehilangan apapun. Aku tetap dengan diriku. Dan aku bukan perempuan yang akan membiarkan kesendirian menggerogoti akar kehidupanku. Meskipun kau tak lagi menolehku. Mungkin aku tak mau lagi mendengarkan kata-katamu. Apalagi menatap sorot matamu. Biarlah yang terjadi padaku karena ketakutanku yang begitu tolol. Kau lelaki matang dan layak untuk berkomitmen. Sedang aku? Aku perempuan yang tak lazim disebut perempuan. Aku adalah perempuan berumur yang tak pernah menyadari kebutuhannya sebagai perempuan, itu yang selalu mereka tuduhkan padaku. Padahal, aku seperti ini karena aku ingin hidup dengan caraku sendiri, dengan tak harus mematok segalanya dengan penuh kekhawatiran. Aku terbiasa melewati jalan yang penuh terjal. Penuh perdebatan. Membiarkan segalanya begitu kusut, dan jangan coba-coba mengambil benang merahnya atau bahkan coba-coba meluruskannya. Aku ingin semuanya tumbuh dan mengalir apa adanya. Dengan begitu aku akan berusaha membuat segalanya seperti yang kuinginkan, tidak kurang tidak lebih. Hal itu juga membuatku terlindung dari segala macam keterlibatan emosional. Aku akan tetap mendaki, berpikir dan bergerak lagi untuk meluruskannya sendiri, tanpa uluran tanganmu ataupun kecupan lembutmu di ubun-ubunku, tanpa harus meminjamkan bahumu untuk gundahku.
Aku perempuan yang mempunyai sejarah sendiri, dan bukan perempuan yang mau mengulang sejarahnya dengan lelaki yang nyaris membuat duniaku terasa sempit, terbatas, dan membingungkan. Aku yakin, tak semua perempuan adalah perempuan, karena Tuhan tidak menggunakan jari-jarinya dari satu tangan. Biarlah semuanya berjalan apa adanya. Biarlah aku menemukan diriku dalam dunia entah. Karena dunia yang sebenarnya, terlihat begitu munafik. Semua manusia ingin diperhatikan, ingin diakui lebih dan berbeda. Mustahil semuanya berjalan
Minggu, 12 Oktober 2008
tentang jiwa yang lain (1)
Hujan, Pulanglah
Oleh : Yetti AKA (January,2,2008)
Runi tidak tidur. Angin Oktober menghempas dinding bercat putih. Senja tadi sedikit gerimis, bisa jadi akan hujan. Runi mulai rindu nyanyi katak dalam rawa. Selain Runi, tidak seorang pun suka suara katak, terlebih Yayu, anaknya. Yayu bilang suara katak mengerikan bila terdengar tengah malam sehabis hujan. Karenanya ia senang sekali mengetahui rawa-rawa itu akan ditimbun dalam waktu dekat, dan rumah-rumah sederhana segera berdiri di atasnya berikut fasilitas umum. Kasihan katak-katak di
Hujan, pulanglah.
Kau nakal, bisik Runi sendu, ia membuka lagi pesan singkat suaminya, seseorang yang sedang tertawan sepi. Sudah sekian hari mereka berpisah. Ini untuk pertama kali. Mereka seharusnya tetap bersama, jika saja Yayu tidak memintanya ke Bengkulu. Pulang kampung sekali-sekali, Bu. Kami semua kangen, terlebih cucu-cucu Ibu. Bukankah Ibu sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di tanah yang terus menahan rindu, begitu ujar Yayu.
Seharian Runi memikirkan ucapan Yayu. Anak perempuannya itu masih ingat cara mencubit perasaannya, membuat ia tergugah. Bengkulu selalu saja menahan rindu. Kadang memang tak perlu berucap sedikit pun. Ia ada: seperti getar. Begitu kira-kira isi
"Bisakah pertemuan ini diteruskan. Kita saling meninggalkan nomor handphone dan alamat rumah sebelum pamit," begitu kata lelaki itu.
"Maksudmu?" Runi tidak cukup mengerti.
"Pertemuan ini, bagiku, tidak cukup sekali. Jika tidak ada pertemuan kedua di sini, bolehkah aku memintanya di tempat lain."
Wajah Runi memerah dan ia tetap tidak percaya lelaki. Ia pergi. Buru-buru menjauh. Lelaki itu tidak mampu mengejarnya.
Maka lelaki itu melepaskannya. Kali itu.
Besoknya Runi kembali ke taman. Berkali-kali. Selalu lengang dan dingin, selayak kuburan. Hanya ada orang-orang lewat atau kesibukan pasar Brokoto, tidak jauh dari
"Bisakah pertemuan ini diteruskan." Runi mendengar suara itu lagi. Berulang kali, seperti kerumunan lebah sedang memburu si penganggu.
Runi berkata, “Bawalah aku.”
"Bila kau mau jadi hujan, aku akan membawamu hingga kau tidak bisa kembali."
Hujan. Runi menggigit ujung kuku yang mulai panjang. Lelaki itu sering memanggilnya hujan. Runi suka sekali panggilan itu. Romantis manis. Runi rindu. Juga bau rokok yang pekat itu, yang kadang membuat Runi harus mencak-mencak karena ia tahu betul lelaki itu tidak bisa merokok lebih dari dua batang dalam sehari karena sesak dada.
"Kau pergi saja sendiri, Run. Aku tidak bisa meninggalkan rumah. Siapa yang akan menjaga bunga-bunga, menyiram tanah yang mengering dalam pot. Pergilah akhir bulan ini. Beberapa hari saja kau di
"Yayu minta awal bulan ini. Menurut Yayu, cucu-cucu kita sangat berharap sebulan penuh aku bersama mereka, jalan-jalan sore menyusuri Pantai Panjang dan Tapak Padri. Kau tahu
"Tapi kau juga tahu aku tidak terlalu suka sendirian, Run. Aku tidak biasa tanpa kawan bicara. Kau masih ingat, bukan? Seseorang yang mulai tua acap kali merasa ketakutan tak bersebab."
"Aku tidak mau cucu kita sedih. Sekali saja, masa tidak bisa memenuhi keinginan mereka." Runi menatap suaminya, minta sedikit pengertian, dan sekilas ia melihat persetujuan itu menyala kecil di mata lelaki yang suka memberinya kata-kata, sejak dulu, ketika mereka berpacaran.
"Terima kasih, kau masih saja mau mengalah," ujar Runi haru. Mereka bertatapan lama, seperti jatuh cinta pertama kali di
Siang itu Runi berangkat dari
Untuk itu sudah beberapa hari ini Runi gelisah. Lebih-lebih seusai gempa mengguncang
"Semua baik saja, Run?" begitu suaminya menelepon beberapa jam setelah itu.
Runi gemetar dan hanya berkata, "Aku ingin bersamamu." Lalu Runi menangis sampai telepon terputus.
Besoknya Runi bilang pada Yayu ingin kembali ke
"Jangan sekarang, Bu. Jangan sakiti anak-anak. Mereka sudah membangun mimpi itu sejak lama, jauh sebelum Ibu memutuskan datang ke sini." Wajah Yayu agak tegang.
Runi bingung. Cucu-cucunya tidak boleh merasa kecewa. Ia mau menjaga perasaan mereka. Kasihan jika mereka harus kehilangan wajah lucu. Runi menyerah, menyandarkan punggung ke dinding dan minta ditinggalkan sendirian. Beberapa jam Runi membiarkan sudut matanya basah.
Tersenyumlah selalu, Runi. Aku suka wajahmu yang berkeringat itu dihias senyuman.
Runi belum lupa cara penyair membujuknya. Lalu Runi mulai tersenyum, lebih manis dari biasa.
Malam ini Runi juga tersenyum saat membaca lagi pesan singkat suaminya: Hujan, pulanglah.
Runi bisa mengerti betapa kosong ruang dada lelaki itu, tempat biasanya ia berlindung.
Lalu hujan turun. Seharusnya Runi senang, katak-katak di rawa akan segera bernyanyi seusai hujan, menghibur hatinya yang nelangsa, tapi tiba-tiba di mata Runi berkelebat orang-orang dalam tenda warna-warni, anak-anak kecil kekurangan susu menangis semalaman, dan orang-orang setua dirinya menahan reumatik di tengah serbuan hawa dingin. Penyair, beri tahu aku, puisi macam apa ini, teriak Runi dalam gemuruh hujan yang makin lebat.
***
Hujan di sini, Run, tidak henti -henti. Bagaimana di
"Kau nakal." Beberapa kali Runi berkata demikian bila ia menelepon. Suara Runi tetap saja manja.
Lelaki itu kembali menyalakan api rokok, untuk yang ke
Ia tidak pernah bisa membuat Runi marah. Lelaki itu pasti berhenti, dan menunjukkan bahwa ia seseorang yang pantas dicintai. Tapi kini perempuan itu jauh darinya. Alangkah pahit pagi tanpa Runi. Tanpa seseorang yang menyuguhkan dua gelas kopi dan
"Bawalah aku."
Kata Runi pasti. Maka, bukankah ia telah membawa Runi meninggalkan berkotak-kotak kenangan di
Runi mau jadi hujan. Bersedia menjadi seseorang yang direbut dari masa lalu. Tidak apa, ujar Runi penuh keyakinan, aku dan kau akan pergi ke setiap jengkal jalan, ke kota-kota lengang, atau tempat-tempat yang bahkan kita belum tahu sama sekali apa namanya.
Itu janji Runi pada penyair, pada seseorang yang menyerahkan hidupnya pada kata sepi.
Bertahun-tahun mereka pun sudah terbiasa bersama.
Sungguh pahit bila kini Runi tidak menemaninya. Ia padam. Seseorang yang bahkan tidak bisa lagi berdiri hanya untuk sekadar membuat segelas kopi, mengambil
"Hujan, pulanglah." Lelaki itu menghitung gelas-gelas dengan sisa kopi sudah mengendap dan basi. Ia menyeringai. Runi belum akan pulang padanya. Masih beberapa lama lagi.
Ia tidak mungkin menunggu selama itu. Ia merasa ada yang akan datang menagih janji, menjadikannya sebuah puisi yang abadi.
hujan selalu pulang, menyapa bekas jejak yang mengering. orang-orang menanti, bermusim hujan jadi rindu perdu dan kenangan kekasih bunga. pulanglah selalu hujan.
Recipient:
seruni
Sent:
05:21:05
03-10-2007
***
Runi bangun tidur ketika pesan singkat—tentu saja hanya dari lelaki itu–sampai padanya. Lama Runi termenung. Sesuatu yang terasa ngilu tiba-tiba menyerang dada, membuat ia merintih panjang, seakan-akan ia amat sendiri dalam rumah bunga yang telah layu.
"Kau kenapa, Sayang," Runi bergumam, "Kau harus menungguku, aku akan segera pulang sebagai hujan. Jangan ke mana-mana, sambutlah aku di muka pintu."
Hujan turun pagi itu. Deras.
Sumber : Media
Tentang Jiwa yang lain (2)
Jalan Soeprapto
TURUN di Simpang Lima lepaslah pandang ke arah patung kuda. Beberapa waktu lalu -aku lupa tepatnya kapan, segalanya cepat berubah, tiba-tiba aku sudah berada di tempat asing dengan segala sesuatu serba baru- bukan patung kuda itu yang berdiri di sana, melainkan patung perahu indah yang mampu membawaku ke dunia khayali; pelayaran ke pulau-pulau rempah di tengah lautan luas pada masa dulu, embusan angin menerobos batas-batas, membuat asin laut menguar di desa-desa nelayan pinggir pantai. Kenapa kukatakan demikian, karena aku memang sangat suka apa pun tentang laut, terutama perahu-perahu nelayan yang mengembangkan layar melawan cuaca buruk dan ombak besar pada waktu tertentu. Eksotis.
Dan kau malah mengajakku bertemu di Simpang
Kau mengancam, "Awas kalau terlambat. Aku bisa menghukummu, Nona."
Aku tidak tahu apa aku benar-benar menginginkan pertemuan itu, bahkan ketika aku sudah menunggumu, berdiri di pinggir jalan menghadap patung kuda yang tidak terlalu kusukai itu. Aku merasa biasa-biasa saja, seakan kedatanganmu bukan lagi sesuatu yang bisa mengaduk-adukku. Terlebih, sebelum ini kita sudah membuat sejumlah janji pertemuan di
Aku kembali sendiri, dan aku lebih suka begini. Tanpa siapa-siapa. Aku bisa menyaksikan banyak hal. Seperti di ujung
"Kita cari makan yang enak," suaramu terdengar lebih tenang, jernih dan terkendali. Tidak sepertiku, lebih sering meledak-ledak, terutama dalam keadaan marah atau terpojok. Kau pernah bilang, begitulah kebanyakan perempuan, suka bermain hati. Kalimat yang sama sekali tidak aku sukai karena seolah di balik kata-kata itu kau mau berkata, laki-laki tentu tidak demikian, mereka lebih rasional, lebih cerdas karena itu mereka ditakdirkan berdiri di depan.
Aku menahan sesuatu di dada. Bukan waktu yang tepat untuk berdebat soal lelaki dan perempuan. Bukan tempat yang tepat.
"Bagaimana kalau minum teh’di rumah saja," tawarku nyaris kehilangan semangat. Aku sengaja bersikap begitu agar kau menyadari kalau aku mulai tidak menyukai situasi.
Sudah berlalu. Jauh.
(sumber: adaapa.info.com)